Breaking News

Buku "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" Gugat Narasi Mainstream: Paradoks NKRI Harga Mati dan Dinamika Papua Barat Merdeka Jadi Perbincangan Luas

Karya Gembala Dr. Socratez S. Yoman tuai ratusan testimoni pembaca lintas agama dan suku di Indonesia – dinilai membuka borok sejarah, kekerasan, dan oligarki SDA di Papua

Jayapura, Globalnetizen.id -
Sebuah buku yang beredar luas secara gratis berjudul "Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua" karya Gembala Dr. Socratez Sofyan Yoman, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pembaca lintas daerah. Buku yang disebut-sebut oleh pembacanya dengan tagline "Buku Ini Menggugat Indonesia: Paradoks NKRI Harga Mati dan Dinamika Papua Barat Merdeka" itu dinilai membongkar cara pandang lama tentang Papua.

Jika di sampul depan tertulis paradoks NKRI Harga Mati, di dalamnya penulis yang dikenal sebagai rohaniawan dan pengamat Papua selama puluhan tahun, mengurai persoalan Papua bukan sekadar isu keamanan, melainkan krisis keadilan, kemanusiaan, dialog politik, dan sejarah integrasi 1961-1969.

Ratusan Testimoni Pembaca Non-Papua

Redaksi Globalnetizen.id menghimpun lebih dari 50 testimoni pembaca dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan yang menerima buku tersebut. Mayoritas mengaku "tertampar" dan "terbuka wawasan".

Berikut rangkuman testimoni yang masuk ke redaksi:

"Buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yang kita terima sejak kecil tentang Papua," – Maldova Ikhsan Abdullah.

"Buku ini menampar wajah kita semua orang Indonesia," – Arifin Mahendra.

"Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar. Sejarah yang tidak benar, tindakan regresif pejabat sipil dan militer, hak masyarakat asli Papua diabaikan. Satu jalan adalah biarkan mereka lepas," – Natsir Ruslani.

"Sesungguhnya siapapun yang punya nurani membaca buku ini akan merasa malu dan terpukul. Solusi terbaik adalah rekonsiliasi dan kembalikan kedaulatan Papua seperti 1 Des 1961," – Faiz Abdala.

"Buku ini membuka borok negara. Kita sebagai warga negara Indonesia non-Papua menjadi malu. Kalau seperti ini dan daripada mereka punah lebih baik kembalikan kemerdekaan mereka 1 Desember 1961," – Dharma Kusmaji.

"Kita mempertahankan kecintaan untuk negara, tetapi di waktu yang sama kita korbankan nyawa sebagian anak bangsa di Papua. Pertanyaannya adalah kita pertahankan Papua itu demi bangsa Indonesia atau demi nafsu liar para petinggi negara dengan kaum oligarki mereka," – Basri La Ode.

"Seperti pisau bedah di tangan dokter, membedah pasien, terasa sakit tetapi itu membawa kesembuhan. Demikian buku ini," – Agus Firmansyah.

"Ini buku adalah semacam CCTV yang mendokumentasikan semua peristiwa masa lampau. Negara tidak bisa berkilah dan cuci tangan," – Priskila Permatashari.

"Buku Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua telah mengambil jalan netral untuk isu agama tidak boleh diseret dalam perjuangan itu. Insyaallah! Bersatu untuk merdeka," – Ahmad Tabroni.

> "Buku ini menikam semakin dalam dan tajam. Buktinya banyak orang lintas suku dan agama berdiri. Kami akan tetap solider tanpa suara dan tidak kelihatan untuk Papua," – Ahmad Tabroni.

"Membaca buku ini kita memiliki pemahaman yang utuh soal Papua, kita digiring kepada pengetahuan yang valid dan benar soal Papua," – Pratiwi Nusantiani.

"Pilihan terbaik dan bermartabat adalah kembalikan kedaulatan Papua yang pernah ada kepada mereka supaya mereka mengatur hidup mereka sendiri," – Suwito.

"Buku Prabowo ini saya terima dan baca dan isinya semua penderitaan, air mata kita diramu dalamnya. Luar biasa. Salut. Suara emas, otak cerdas yang memikirkan nasib bangsanya," – Jendi Smas.

Konteks dan Analisis Mainstream

Dalam bedah isinya, buku edisi revisi ini disebut pembaca memiliki tiga pilar utama:
1. Sejarah integrasi yang cacat – mempertanyakan proses dari Deklarasi Batavia 1910, NGR 1961, hingga Pepera 1969.
2. Kekerasan struktural – paparan tindakan oknum aparat sipil dan militer serta kerakusan terhadap SDA.
3. Tantangan untuk Presiden Prabowo – dihadapkan pada pilihan melanjutkan paradigma keamanan atau terobosan dialog dan rekonsiliasi.

Hingga berita ini diturunkan, buku tersebut diketahui dibagikan gratis melalui jaringan solidaritas dan diskusi kampus. Metode pembagian gratis ini dinilai efektif oleh pembaca seperti Nurdin Abdullah yang menyarankan buku dibagikan luas terutama kepada kaum muda. (DW)

Tentang Penulis
Dr. Socratez S. Yoman adalah rohaniawan, Ketua Sinode Baptis Papua, dan penulis sejumlah buku tentang Papua. Buku terbarunya ini disebut sebagai karya yang paling tajam dan lengkap dengan dokumen serta fakta sejarah.




© Copyright 2022 - Global Netizen