JAKARTA, Globalnetizen.id -
Perdebatan di media sosial soal identitas arsitektur bata merah kembali memanas. Sejumlah warganet menyebut penggunaan desain bata merah dan "candi bentar" oleh orang Sunda sebagai "tidak sesuai kesundaan" dan "itu budaya Jawa Majapahit".
Menyikapi hal ini, Pakar Geopolitik dan Ketahanan Nasional, Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, angkat bicara. Menurutnya, narasi yang menyempitkan arsitektur bata merah hanya sebagai milik Majapahit adalah keliru secara sejarah dan berbahaya bagi persatuan bangsa.
"Kita harus jujur pada data arkeologi. Sebelum Majapahit berdiri, bahkan jauh sebelum Mataram Kuno muncul, masyarakat di tanah Sunda sudah lebih dulu mengenal dan membangun dengan bata merah," tegas Prof. Connie.
Bukti Arkeologis: Tarumanegara Abad ke-4 M
Prof. Connie merujuk pada Kerajaan Tarumanegara sebagai bukti paling awal. Kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa ini berdiri tahun 358 M di bawah pimpinan Jayasingawarman dan berjaya hingga abad ke-7 M.
"Buktinya ada di depan mata kita. Lihat Kompleks Candi Batujaya di Karawang, Jawa Barat. Itu peninggalan Tarumanegara. Secara arkeologis jelas menunjukkan penggunaan bata merah sebagai material utama," jelasnya.
Ia menyoroti Candi Blandongan, salah satu situs utama di Batujaya. Kompleks ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-5 hingga ke-7 Masehi.
"Usianya bahkan lebih tua daripada candi-candi batu andesit besar di Jawa Tengah seperti Borobudur dan Prambanan. Ini membantah klaim bahwa bata merah baru muncul bersama Majapahit," ujarnya.
Keunikan Arsitektur Sunda Kuno
Prof. Connie menjelaskan, arsitektur Batujaya memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dari tradisi di Jawa Tengah.
"Berbeda dengan candi di Jawa Tengah yang memakai batu andesit, situs Batujaya memanfaatkan batu bata merah. Di dindingnya ada tonjolan setengah lingkaran berlapis stuko atau lepa halus. Ini ciri khas seni bangunan Buddha kuno di wilayah barat Nusantara," terangnya.
Secara geografis, kompleks ini berada di hamparan persawahan luas di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang. Selain Candi Blandongan, di area yang sama juga terdapat struktur penting lain seperti Candi Jiwa.
Stop Klaim Sepihak, Bangun Narasi Nusantara
Prof. Connie mengkritik keras warganet yang menyebut "Orang Sunda pakai bata merah itu nggak sesuai kesundaan".
"Kalau masih ada yang bilang arsitektur bata merah itu bukan karakter Sunda... mungkin dia perlu baca ulang sejarah. Jangan sampai kita terjebak pada klaim sepihak yang memecah identitas budaya," tegasnya.
Menurutnya, bata merah adalah warisan teknologi konstruksi Nusantara yang berkembang di berbagai kerajaan. Majapahit mengembangkannya, Tarumanegara memulainya. Keduanya sama-sama hebat.
"Majapahit tidak perlu dimonopoli. Sunda juga tidak perlu dihapus. Kita ini satu rumpun peradaban bahari yang saling memengaruhi. Yang harus kita lakukan adalah bangga, merawat, dan meneliti bersama," pungkas Prof. Connie.
Ajakan: Lindungi Situs, Kuatkan Riset
Prof. Connie mendesak pemerintah, BPCB, dan kampus untuk mempercepat penelitian dan perlindungan terhadap situs Batujaya dan situs bata merah lainnya di seluruh Indonesia.
"Jangan sampai generasi muda kita hanya tahu Borobudur dan Prambanan. Mereka juga harus tahu Batujaya, Candi Merah, dan ratusan situs bata merah lain. Itu baru Indonesia yang utuh," tutupnya.(DW)

Social Header