TIONGKOK, Globalnetizen.id - Perkembangan terbaru datang dari tujuh awak kapal MV Star Janet yang hingga kini masih menunggu kepastian pembayaran upah dan kepulangan ke Indonesia.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) disebut telah melakukan komunikasi dengan pihak kapal dan pemilik kapal terkait kondisi yang dialami para awak.
Informasi tersebut disampaikan Kapten MV Star Janet, Budi Prajitno Kastar, saat dikonfirmasi melalui saluran WhatsApp pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 20.30 WITA.
Menurut Budi, komunikasi antara KJRI dengan pihak kapal dan owner telah dilakukan. Bahkan, pada Senin sore, pihak KJRI melalui owner menyampaikan informasi terbaru mengenai pembayaran gaji para awak yang hingga kini masih belum terbayarkan.
“Untuk gaji yang belum terbayar, kemarin sore pihak KJRI melalui owner sudah memberikan informasi terbaru,” ujar Budi.
Namun, kepastian pembayaran tersebut masih ditunggu oleh para awak. Budi mengatakan mereka mendapat informasi bahwa pembayaran gaji kemungkinan dilakukan pada Rabu (12/8/2026) atau Kamis (13/8/2026).
Para awak berharap janji tersebut benar-benar direalisasikan. Sebab, menurut Budi, sebelumnya mereka telah beberapa kali menerima janji pembayaran yang belum terealisasi.
“Kami berharap mudah-mudahan janji itu ditepati, karena selama ini sering ada janji-janji yang belum terbukti sampai saat ini,” kata Budi.
Selain persoalan gaji, terdapat perkembangan mengenai rencana kepulangan tujuh awak ke Indonesia.
Budi mengatakan terdapat rencana agar MV Star Janet bergerak dari Tiongkok menuju Vietnam. Jika rencana tersebut terealisasi, para awak akan melakukan perjalanan pulang ke Indonesia dari Vietnam.
“Untuk kepulangan ada rencana kapal dari China ke Vietnam, jadi kami pulang dari sana,” ungkap Budi.
Namun, rencana tersebut masih menunggu kepastian pelaksanaan. Para awak berharap proses pemulangan dapat segera dilakukan setelah persoalan pembayaran gaji diselesaikan.
Mereka juga berharap pemerintah Indonesia dapat membantu memperjuangkan hak mereka selama bekerja di atas kapal.
“Kami berharap pemerintah Indonesia bisa membantu menagih gaji kami selama kami bekerja di atas kapal dan kami dipulangkan ke Indonesia,” ujar Budi.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan dasar para awak disebut mulai mendapatkan perhatian.
Budi mengatakan makanan dan air minum telah kembali datang ke kapal. Sementara persediaan obat-obatan disebut masih terbatas.
“Untuk makanan dan air minum baru datang. Obat ada sedikit,” katanya.
Untuk komunikasi, para awak disebut masih mengandalkan telepon seluler dengan menggunakan paket roaming agar tetap dapat berkomunikasi dari kapal.
Sebelumnya, tujuh awak MV Star Janet mengaku menghadapi berbagai persoalan selama berada di perairan Tiongkok.
Berdasarkan keterangan Budi, persoalan tersebut antara lain kerusakan generator dan kebocoran pada ruang muat. Dari empat generator yang tersedia, hanya satu yang sempat dapat beroperasi dan kemudian berulang kali mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut disebut berdampak terhadap penerangan, kebutuhan listrik, penyimpanan makanan, hingga kemampuan awak memompa air yang masuk melalui kebocoran ruang muat.
Pada 10 Mei 2026, para awak disebut meminta bantuan kepada KJRI Guangzhou. Menurut Budi, dua hari kemudian, 12 Mei 2026, KJRI bersama Maritime Safety Administration (MSA) Guangzhou mengirimkan kapal penyelamat.
Para awak kemudian sempat dievakuasi ke daratan setelah kondisi kapal disebut mengalami keadaan yang mengkhawatirkan akibat masuknya air ke ruang muat dan kapal mengalami kemiringan.
Setelah kondisi kapal lebih stabil, MV Star Janet kemudian diarahkan ke lokasi lego jangkar yang dianggap lebih aman dan sejumlah perbaikan dilakukan.
Namun, persoalan pembayaran upah disebut masih berlanjut.
Budi sebelumnya mengatakan tujuh awak belum menerima gaji sejak keberangkatan pada 16 Maret 2026. Hingga wawancara pada 9 Agustus 2026, masa tersebut telah mencapai sekitar empat bulan 24 hari atau hampir lima bulan.
Kini, para awak menunggu kepastian apakah pembayaran gaji yang diinformasikan akan dilakukan pada 12–13 Agustus 2026 benar-benar terealisasi.
Mereka juga berharap rencana perjalanan MV Star Janet dari Tiongkok menuju Vietnam dapat menjadi jalan bagi tujuh awak untuk segera kembali ke Indonesia.
Keterangan mengenai kondisi dan perkembangan tersebut disampaikan berdasarkan informasi dari Kapten MV Star Janet. Pihak-pihak terkait tetap memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi atau hak jawab apabila terdapat informasi yang perlu diluruskan. (Smt)

Social Header