Adanya Penyerahan Diri Mantan OPM di Daerah Moskona, Pemerintah- mestinya Berikan Perhatian Khusus Terhadap Daerah Ini, Terutama Tuntutan Yang Disampaikan Para Mantan OPM/Eduard Orocomna,S.T.
MANOKWARI,Globalnetizen.id Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Pokja Adat Perwakilan Teluk Bintuni, Eduard Orocomna, S.T., mengungkapkan rasa syukur atas kembalinya keluarganya dari hutan. Keluarga Eduard sebelumnya bergabung dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Moskona.
“Puji Tuhan, keluarga saya sudah pulang ke rumah. Ini jawaban doa kami selama bertahun-tahun. Sebagai orang tua, sebagai anak adat, saya bersyukur sekali mereka pilih jalan damai,” kata Eduard saat diwawancarai di Manokwari, Minggu (5/7/2026).
Eduard bilang, selama di hutan komunikasi putus dan rasa khawatir selalu ada. “Yang kami takutkan itu kalau mereka sakit, kalau ada kontak senjata. Tidur tidak nyenyak. Sekarang mereka pulang, beban itu lepas,” ujarnya.
Tren Kembali ke NKRI
Eduard menyebut, kembalinya keluarganya bukan kasus tunggal. Ia mencontohkan peristiwa di Sinak, Papua Tengah, pada 22 Juni 2025 lalu, di mana tiga mantan anggota OPM — Amus Tabuni, Amute Tabuni, dan Anis Tabuni — secara resmi menyatakan ikrar setia kepada NKRI di halaman Koramil 1717-02/Sinak.
“Di Sinak tiga bersaudara itu cium Bendera Merah Putih, nangis, ikrar tinggalkan jalan separatis. Di Moskona keluarga saya pulang. Ini tanda hati nurani menang atas senjata. Anak-anak Papua mau damai, mau bangun kampung,” kata Eduard.
Ia mengutip pernyataan Dansatgas Yonif 700/WYC, Letkol Inf Heraldo Tabasonda: “Kita tidak sedang berperang melawan saudara kita, kita sedang berjuang memenangkan mereka kembali.” Menurut Eduard, pernyataan itu sejalan dengan kerja-kerja adat MRPB.
Selaku Pokja Adat MRPB, Eduard tegaskan tugasnya pastikan warga yang pulang dari hutan diterima kembali secara adat dan sosial. “Tugas MRPB jaga harkat dan martabat Orang Asli Papua. Kalau ada anak-anak kita yang pulang dari hutan, maka tugas adat, tugas gereja, tugas pemerintah untuk rangkul. Jangan ada stigma. Mereka itu anak-anak kita juga,” tegas Eduard.
Ia sudah koordinasi dengan dewan adat Moskona dan tokoh gereja untuk ritual adat penyambutan. “Secara adat, mereka harus dipulihkan. Dibersihkan, diterima kembali di para-para adat. Supaya tidak ada dendam, tidak ada takut. Sama seperti di Sinak ada doa dari Pendeta Yas Murib,” kata Eduard.
Eduard juga menyinggung permintaan keluarga di Sinak lewat Manus Murib agar pos keamanan diperluas ke Distrik Yugumuak. “Artinya, rakyat butuh rasa aman. Tapi aman saja tidak cukup,” ujarnya.
Desak Berdayakan Pengusaha Asli Moskona
Eduard nilai kembalinya eks-OPM harus diikuti keberpihakan pemerintah. Ia soroti banyak pengusaha asli Moskona mati karena tidak dapat proyek.
“Banyak warga Moskona yang punya CV, punya PT, tapi tidak diberdayakan. Dapat proyek di bawah 100 juta, satu kali, tunggu lima tahun lagi. Kasihan. Sementara mereka yang pulang dari hutan ini butuh kerja, butuh hidup,” ujar Eduard.
Menurutnya, proyek jalan antar-distrik di Moskona harus dikerjakan pengusaha asli setempat. “Kalau pemerintah mau damai berkelanjutan, libatkan mereka bangun kampungnya. Kasih kepercayaan kelola proyek. Jangan cuma yang dianggap tim sukses yang dapat,” kata Eduard.
Pesan ke Pemerintah: Jangan Beda-bedakan
“Saya selalu bilang, jangan sampai masyarakat seperti ayam kehilangan induk. Induk itu pemerintah. Kalau induk adil, semua anak ayam aman,” ujarnya.
Ia harap Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Papua Barat beri perhatian khusus ke Teluk Bintuni. “Mereka sudah pilih NKRI. Dari Sinak sampai Moskona buktinya nyata. Sekarang giliran negara hadir. Bukan dengan senjata, tapi dengan pembangunan yang adil. Seperti kata Wadansatgas Yonif 700, Kapten Finsa: keamanan sejati lahir dari kepercayaan,” pungkas Eduard.
Apresiasi dan Kebutuhan Mendesak
Eduard menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pangdam XVIII/Kasuari beserta seluruh jajaran TNI di Papua Barat. “Terima kasih Bapak Pangdam 18 dan anak buah yang sudah pakai pendekatan hati. Karena pendekatan humanis, keluarga saya dan 39 saudara kita berani pulang dari hutan. Ini bukan kerja kecil. Ini kerja selamatkan nyawa,” ucapnya.
Namun ia juga menitip pesan mendesak kepada Pemerintah Daerah Teluk Bintuni dan Provinsi Papua Barat. “Saat ini ada 39 orang saudara kita yang baru kembali ke pangkuan NKRI. Mereka butuh uluran tangan nyata. Kami mohon Pemda bantu untuk makan dan minum mereka sementara waktu. Yang paling penting, mereka butuh rumah untuk hunian. Jangan sampai sudah pilih damai, tapi tidur masih kehujanan,” tegas Eduard.
_Pesan untuk Anak Muda & Harapan 17 Agustus_
“Anak-anak muda, jangan salah jalan. Hutan bukan tempat masa depan. Masa depan ada di sekolah, di kebun, di usaha. Kalau ada masalah, datang ke MRPB, datang ke dewan adat. Kami siap dengar,” tutupnya.
Eduard menambahkan satu harapan besar: “Kalau Tuhan izinkan, saya bermimpi tahun depan 17 Agustus 2026, kami dari Teluk Bintuni, termasuk keluarga dan 39 saudara-saudara yang baru pulang dari hutan, bisa diundang ke Istana Negara. Berdiri tegak ikut Upacara Pengibaran Sang Saka Merah Putih bersama Presiden. Itu simbol bahwa kami benar-benar diterima kembali sebagai anak bangsa. Dari mencium bendera di Sinak, sampai hormat bendera di Istana.”(DW)

Social Header