Breaking News

Belajar Marhaenisme Langsung dari "Sumbernya", Kader GMNI Untag Surabaya Diajak Baca Ulang Ketimpangan Sosial Hari Ini

Surabaya, Globalnetizen.id -
Sesi puncak Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) yang digelar DPK GMNI Untag Surabaya pada 26-28 Juni 2026 di kawasan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, punya nuansa yang berbeda dari biasanya.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua Dewan Pembina YPTA Surabaya, Bambang Dwi Hartono, yang juga dikenal sebagai mantan Wali Kota Surabaya ke-14. Selama tiga hari, peserta diberi berbagai materi, dari sejarah pergerakan GMNI sampai isu kesetaraan dan peran perempuan dalam gerakan.

Tapi dari semua materi, ada satu sesi yang paling banyak diperbincangkan peserta KTD, yaitu sesi materi Marhaenisme yang dibawakan Dhipa Satwika, Dhipa sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) Bidang Politik, sekaligus mantan Ketua DPC GMNI Surabaya periode 2025, jadi memang orang yang setiap hari bersentuhan langsung dengan pemahaman ideologi dan politik organisasi, baik di level nasional maupun kota.

Dipandu oleh Sarinah Dya Amirah N. I, yang kebetulan merangkap jadi moderator, kader, sekaligus panitia. Sesi ini tidak hanya membahas Marhaenisme sebagai warisan sejarah saja. Dhipa justru mengajak peserta menelusuri akar pemikiran yang berpihak ke kaum kecil, lalu menariknya ke persoalan hari ini, seperti ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, sampai posisi rakyat kecil di tengah gempuran kebijakan. Menurutnya, Marhaenisme baru ada gunanya kalau terus dihidupkan lewat sikap dan tindakan nyata para kader-kader, bukan hanya dihafal jadi jargon perjuangan saja.

Dya sendiri mengaku sesi ini meninggalkan kesan yang lumayan dalam buat dirinya.

"Materi Marhaenisme yang disampaikan Bung Dhipa benar-benar membuka pemikiran kami. Bukan cuma soal sejarah, tapi bagaimana nilai-nilai itu masih sangat relevan untuk membaca ketimpangan sosial hari ini. Buat saya pribadi, ini salah satu momen paling berkesan dalam KTD kali ini," ujar Dya.

Diskusi makin seru waktu Dhipa melempar pertanyaan reflektif ke peserta, mengajak mereka menelaah sosok "marhaen" versi hari ini, salah satunya soal fenomena pekerja gig economy, contohnya seperti kurir dan pengemudi ojek online. Dia mendorong peserta buat mikir ulang bahwa sosok "marhaen" masa kini tidak lagi cuma petani atau buruh pabrik, tapi bisa juga dilihat pada para pekerja lepas era digital yang banting tulang tapi sering luput dari perlindungan sosial dan kepastian kesejahteraan. Lewat pertanyaan itu, Dhipa mengajak kader untuk memperluas cara pandang soal siapa yang perlu diperjuangkan sekarang, sejalan dengan semangat Marhaenisme yang selalu berpihak pada mereka yang lemah secara struktural.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Dhipa di penghujung sesi, sebagai tanda terima kasih atas kontribusinya telah berbagi pemikiran ke generasi kader-kader baru.

Ketua pelaksana kegiatan juga menegaskan, semangat besar dari seluruh rangkaian KTD ini sejalan dengan apa yang disampaikan dalam sesi Marhaenisme tadi.

"Melalui kaderisasi ini kami berharap lahir kader-kader yang tidak hanya paham nilai-nilai Marhaenisme secara teori, tapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," ujarnya.

Rangkaian Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) ditutup dengan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh peserta, sebelum akhirnya mereka resmi dikukuhkan sebagai kader GMNI lewat prosesi inisiasi dan pengesahan. Dengan berakhirnya kaderisasi ini, DPK GMNI Untag Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus mencetak kader yang berintegritas dan siap melanjutkan estafet perjuangan, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran Marhaenisme, menuju cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.(DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen