"Di Bulan Bung Karno, Petrus Herman soroti ajaran Marhaenisme. Ideologi kerakyatan dinilai jadi jawaban untuk memberdayakan rakyat kecil di tengah gempuran kapitalisme digital dan narasi pecah belah"
Juni diperingati sebagai Bulan Bung Karno. Petrus Herman, relawan perjuangan demokrasi asal Kota Tangerang, menilai ajaran Marhaenisme yang dicetuskan Soekarno masih relevan. Menurutnya ideologi itu bisa jadi kompas untuk memberdayakan kaum marhaen di era ekonomi digital, ketimpangan sosial, dan maraknya hoax yang memecah persatuan anak bangsa
TANGERANG, Globalnetizen.id-
Ideologi Marhaen atau Marhaenisme adalah ajaran politik, sosial, dan ekonomi yang dicetuskan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ideologi ini bertujuan memberdayakan kaum marhaen, sebutan untuk rakyat kecil yang tertindas, melalui perjuangan anti-kapitalisme, anti-imperialisme, dan anti-kolonialisme untuk mewujudkan kemerdekaan serta keadilan sosial.
Pandangan itu disampaikan secara tertulis oleh Petrus Herman dalam memperingati Bulan Bung Karno, Minggu 7/6/2026. Sebagai relawan demokrasi yang fokus pada pendidikan politik warga, ia melihat Marhaenisme bukan sekadar sejarah.
“Bung Karno bilang Marhaen itu petani kecil, buruh, nelayan, pedagang asongan. Mereka yang kerja keras tapi hasilnya sering diambil sistem. Ajaran Marhaenisme itu antinya jelas: anti-kapitalisme yang menindas, anti-imperialisme yang menjajah, anti-kolonialisme yang merampas kedaulatan,” ujar Petrus Herman.
Menurutnya, semangat Marhaenisme hari ini bisa diterjemahkan ke konteks kekinian. Kaum marhaen modern bukan hanya petani di sawah, tapi juga driver ojek online, UMKM yang tergilas platform, dan pekerja gig yang tak punya jaminan sosial.
“Kalau dulu Bung Karno lawan VOC dan penjajah Belanda, sekarang kita lawan algoritma yang tidak adil dan platform yang serap untung besar tapi lepas tanggung jawab ke pekerjanya. Itu bentuk kolonialisme baru,” tegasnya.
Waspada Hoax Pemecah Belah
Petrus juga menyoroti maraknya narasi yang bersifat memecah belah sesama anak bangsa di media sosial, terutama berita-berita bohong atau hoax. Ia menilai itu bentuk baru “penjajahan” yang bertentangan dengan semangat Marhaenisme.
“Bung Karno ajarkan gotong royong dan persatuan. Tapi hari ini kita lihat di medsos, hoax dan fitnah disebar untuk bikin anak bangsa saling curiga, saling benci. Itu sama saja menjajah pikiran rakyat kecil. Marhaenisme menolak itu. Kita harus lawan dengan literasi digital dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Petrus menekankan, inti Marhaenisme adalah keberpihakan. Negara harus hadir melindungi rakyat kecil agar bisa berdikari dan sejahtera. Tanpa itu, kemerdekaan hanya jadi jargon.
“Bulan Bung Karno ini momentum mengingatkan kita: merdeka itu kalau rakyat kecil sudah dapat keadilan sosial. Marhaenisme ajarkan gotong royong dan berdikari. Dua itu obat untuk ketimpangan hari ini,” tutupnya.(DW)

Social Header