_Satu Data, Satu Komando. Saudi Sudah Siap, Pemerintah Kapan?
MEKAH, Globalnetizen.id -
Peringatan keras dilontarkan Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI Dr. Rieke Diah Pitaloka. Jangan sampai ada jamaah haji Indonesia 2026 yang meninggal karena data komorbidnya tidak masuk sistem rumah sakit Saudi.
"Saudi telah menyiapkan sistemnya. Rakyat menanti perlindungannya. Satukan data, jalin MoU, perkuat peran Konjen RI. Sukses haji: jamaah pulang selamat dan sehat," kata Rieke dari Al Qim'ma Hall, Mekah, Minggu 24/5/2026 dalam #KawalJamaah #ViralForJustice.
Faktanya pahit. Dari 221.000 kuota jamaah, data penyakit penyerta 221.000 orang belum masuk ke RS Saudi. Artinya dokter di sana menebak saat menangani. Itu bukan pengobatan, itu judi nyawa.
Lebih gila lagi, hanya 77,91% jamaah yang JKN-nya aktif. Sisanya 22,09% jalan tanpa jaring pengaman.
Rieke membongkar biang keroknya: Kemenhaj, Kemenkes, BPJS ribut sendiri. Tidak ada komando tunggal. MoU BPJS dengan Council of Health Insurance dan Tawuniya selaku operator asuransi haji Saudi juga belum kelar. Akibatnya data perawatan di Saudi putus dengan BPJS. Continuity of care? Mimpi.
Timwas DPR tidak mau ada korban. Rieke menuntut 4 langkah 24-48 jam: entri 100% data komorbid, verifikasi asuransi via visa polis Tawuniya, tambah tenaga medis di tenda lansia Arafah-Mina, dan hotline JKN 24 jam.
Konjen RI di Jeddah harus jadi panglima, bukan tukang stempel. Tugasnya koordinasi semua pihak, urus imigrasi, lindungi WNI, dan fasilitasi darurat.
Pasca haji, Rieke menuntut protap terpadu, MoU bilateral BPJS-CHI-Tawuniya, integrasi Total Care Saudi, dan revisi regulasi.
Pesan terakhir Rieke menampar: "Haji itu ibadah, bukan lotre. Jangan tunggu ada yang mati baru rapat darurat."(DW)

Social Header