Di tengah suasana istirahat bersama keluarga di rumah, sebuah surat terbuka dari Ita Wakhu Purom yang ditulis oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman, beredar luas pada Sabtu, 4 Oktober 2026._
Dalam surat yang ditujukan kepada saudara-saudara Non Papua dari Sorong sampai Merauke itu, Ita Wakhu Purom mengajak semua pihak untuk menganalisa dan menilai secara kritis dari mata iman dan mata rohani tentang rangkaian kekerasan yang selama ini terjadi di Tanah Papua.
Melalui surat tersebut, Yoman yang juga merupakan Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua, Anggota WPCC, PCC dan BWA, mengajukan tiga pertanyaan fundamental:
1. Siapa yang menembak mati orang-orang sipil pendatang dan anggota TNI berpangkat rendah, kecuali Brigadir Jenderal (Anumerta) I Gusti Putu Danny Nugraha Karya yang gugur di Kabupaten Puncak pada 25 April 2021?
2. Apakah penembakan warga sipil dan anggota TNI berpangkat kecil hanya sebagai tameng untuk membendung kritik negara-negara anggota PBB tentang pelanggaran HAM Indonesia di Papua dalam Sidang Umum PBB setiap bulan September?
3. Siapa yang mendapat keuntungan atas kematian orang-orang sipil dan anggota TNI yang tidak bersalah ini?
Menurutnya, sejak tahun 1960-an hingga 1997, belum pernah ada penembakan bahkan pembunuhan rakyat sipil berprofesi guru, mantri, tukang, misionaris dan pilot yang bertugas di pedalaman Papua.
"Kepada keluarga korban warga sipil non Papua dan anggota TNI berpangkat rendah, perlu ketahui bahwa rakyat dan bangsa Papua Barat berjuang untuk pengembalian hak politik kami pada 1 Desember 1961 yang dianeksi 19 Desember 1961, bukan melukai dan menyakiti saudara-saudara kami pendatang," tulisnya.
Ia menegaskan, perjuangan bangsa Papua Barat adalah untuk meraih kembali kemerdekaan 1 Desember 1961, bukan untuk menembak warga sipil. Ia menjamin, jika kelak Papua Barat diakui merdeka, semua akan hidup bersama secara setara, saling menghargai dan melindungi di atas Tanah ini.
Dalam surat itu, Ita Wakhu Purom juga meminjam pernyataan mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara, A.C. Manulang: "Bukan tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta."
*Daftar Pertanyaan Abadi yang Belum Terjawab*
Surat tersebut kemudian memuat 16 pertanyaan abadi yang menurutnya berdiri tegak dan belum pernah dijawab melalui investigasi independen yang transparan, antara lain:
Siapa yang menembak mati Aris Sanda (41), sopir travel yang tewas ditembak dan dibakar bersama mobilnya pada 15 September 2026 di Jalan Poros Habema KM 32 Jayawijaya-Nduga?
Siapa pelaku penembakan Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik pada 9 September 2026 di Wamena?
Siapa yang menembak mati pilot Nicholas F. Goselin dan membakar pesawat PT AMA di Yahukimo, 2 Juli 2026?
Siapa yang menembak mati Suster Gabriela Meilani (22) di Kiwirok, Pegunungan Bintang, 13 September 2021, serta guru Melani Wamea (31) di Holuwon, Yahukimo, 10 Oktober 2025?
Termasuk kasus penembakan pilot asing Glen Malcolm Conning di Alama, Mimika (5 Agustus 2024), Rick Spier dan Edwin Burgon di Timika (2002), hingga Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha di Beoga, Puncak (25 April 2021) dan 8 karyawan PT Palapa Timur Telematika di Beoga pada 2 Maret 2022.
"Selama belum ada investigasi independen yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, maka setiap tuduhan yang dilemparkan kepada satu pihak saja, tanpa bukti yang dapat diperiksa semua orang, tidak dapat diterima sebagai kebenaran," tegasnya.
Menurut analisa Ita Wakhu Purom, ada dua tujuan sistematis di balik kekerasan tersebut:
Pertama, penembakan warga asing bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada komunitas internasional bahwa perjuangan Papua Barat merdeka itu kejam dan kriminal, sehingga tidak perlu didukung. Ini dipakai sebagai materi kampanye diplomat Indonesia.
Kedua, penembakan warga sipil dan anggota TNI berpangkat kecil bertujuan supaya rakyat Indonesia membenci dan tidak bersimpati terhadap perjuangan Papua Barat merdeka.
"Ini strategi sistematis untuk mengkriminalisasi perjuangan Papua Barat merdeka dengan jalan damai. Kita jangan lihat pelaku yang di depan mata kita, itu terlalu dangkal, prematur, tapi kita pertanyakan siapa di belakangnya yang memegang remote control," tulisnya.
Surat tersebut ditutup dengan pernyataan bahwa semua konflik tidak lahir dari ruang hampa, melainkan diciptakan dan dipelihara demi kepentingan penguasaan sumber daya alam, di mana penduduk asli Papua justru dilihat sebagai penghalang.(DW)
Kontak Penulis: 08124888458
Ita Wakhu Purom, 4 Oktober 2026
Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Social Header