Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua
JAYAPURA, Globalnetizen.id -
Di tengah konflik berkepanjangan di Tanah Papua, nilai-nilai luhur perang tradisional Suku Lani di Pegunungan Tengah Papua menyimpan etika kemanusiaan yang ketat. Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman menuliskan kembali norma-norma tersebut dalam catatan berjudul "Orang Pegunungan Papua (Suku Lani) dan Etika Perang".
Menurut Socratez, dalam tradisi Lani, perang tidak boleh dilakukan tanpa aturan. Ada norma yang wajib ditaati oleh kedua kelompok yang bertikai.
"Dilarang membunuh anak-anak. Dilarang membunuh perempuan. Dilarang membunuh orang tua dan juga orang lumpuh. Dilarang membunuh pemimpin. Dilarang mengambil barang-barang di medan perang sebagai jarahan. Dilarang memperkosa perempuan di medan perang," tulis Socratez dalam naskahnya, Ita Wakhu Purom, (4/10/2026)
Ia menjelaskan, pembunuhan terhadap musuh pun harus memiliki alasan yang jelas dan kuat, tidak boleh sembarangan. Bahkan cara membunuh pun diatur secara adat.
"Jangan hancurkan muka, kepala, jangan potong leher, potong kaki dan tangan manusia yang dibunuh. Jangan keluarkan isi perut. Jangan membunuh dari bagian belakang. Manusia dibunuh dibagian dada atau lambung," tulisnya.
Larangan Buang Mayat di Jurang dan Kewajiban Kabarkan Keluarga
Etika Lani juga sangat menghormati jenazah. Mayat musuh yang terbunuh dilarang keras dibuang ke jurang, disembunyikan di tempat tersembunyi, ditelanjangi, atau dibiarkan terlentang menghadap langit maupun tanah.
"Mayat orang yang dibunuh diatur posisi tidur menyamping kanan atau kiri. Setelah dibunuh, pihak pembunuh berkewajiban sampaikan informasi kepada keluarga korban, supaya keluarga datang mengambil jenazah dan berkabung dan mengabukannya (membakarnya)," jelas Socratez.
Pelanggaran terhadap norma-norma tersebut, dalam kepercayaan Lani, akan mendatangkan kutuk dan murka turun-temurun. Darah orang yang dibunuh akan menuntut balasan, hingga pelaku mengakui kesalahan dan meminta pengampunan dari keluarga korban.
Ndumma: Pemimpin Adalah Simbol Perdamaian
Poin paling krusial dalam etika perang Lani adalah perlindungan terhadap pemimpin. Pemimpin kedua belah pihak yang berperang dilarang dibunuh.
"Dilarang membunuh dan wajib lindungi pemimpin kedua pihak karena pemimpin adalah simbol pelindung dan perdamaian. Kalau pemimpin dibunuh berarti kehancuran dan malapetaka bagi rakyat," tulis Socratez.
Dalam keyakinan Lani, pemimpin adalah NDUMMA - pemegang kebenaran, keadilan, kasih, kejujuran, pengharapan, pembawa angin sejuk, kenyamanan, ketenangan dan harmoni hidup. Mengganggu Ndumma berarti mengganggu seluruh penduduk Lani.
Perdamaian Lewat Babi dan Daun Pisang
Menariknya, perdamaian dalam tradisi Lani dilakukan dengan cara yang sangat humanis. Walaupun bermusuhan, kedua pihak berdamai dengan makan bersama, menyembelih babi, dan saling bertukar ternak babi. Daun pisang yang diatasnya diletakkan daun ubi menjadi simbol perdamaian.
"Orang-orang Papua pada umumnya dan orang Lani lebih khusus, orang-orang paling jujur, tulus, tidak berpura-pura dan munafik. Mereka mencintai KEDAMAIAN dan PERSAUDARAAN," tulis Socratez.
Catatan budaya ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa bangsa Melanesia di Pegunungan Tengah memiliki sistem nilai kemanusiaan yang tinggi dan relevan untuk meredam konflik hari ini.
"Orang-orang Lani adalah bangsa Melanesia yang sangat unik ada di planet ini. Aku bangga karena aku orang Lani, aku orang gunung, aku orang Papua, aku orang Melanesia," tutup Socratez.(DW)
Penulis adalah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Social Header