TANGERANG, Globalnetizen.id -Lampu temaram di RT 05/RW 01, Kelurahan Pondok Bahar, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, Sabtu (19/9) malam itu menjadi saksi bisu sebuah syukuran yang sederhana namun penuh haru. Di sebuah rumah yang baru saja selesai dibedah total, tangis Maryati pecah. Bukan tangis duka, melainkan syukur yang tak terbendung.
Selama bertahun-tahun, Maryati harus bertahan di rumah yang tak layak huni. Atap bocor saat hujan, dinding rapuh dimakan usia, dan lantai yang tak rata menjadi pemandangan sehari-hari. Kini, semua itu tinggal kenangan. Rumahnya berdiri kokoh, dinding dicat bersih, atap kokoh, dan lantai sudah diplester layak.
Di balik transformasi rumah itu, ada satu nama yang disebut berulang-ulang oleh warga yang hadir: Alrizoma Akrom, S.H., M.I.Kom, Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangerang Fraksi PDI Perjuangan.
Acara malam itu bertajuk "Silaturahmi Koordinator PIP & Syukuran Bedah Rumah Selesai" yang digelar pada Hari/Tanggal: Sabtu, 19 September 2026, Pukul 19.30 WIB (ba'da Isya) s/d selesai, bertempat di RT 05/RW 01, Kelurahan Pondok Bahar, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang.
Hadir dalam syukuran tersebut Maryati selaku penerima manfaat, serta para Koordinator Program Indonesia Pintar (PIP) dari tiga kecamatan sekaligus: Kecamatan Ciledug, Kecamatan Karang Tengah, dan Kecamatan Larangan. Suasana kekeluargaan begitu terasa. Mereka berfoto bersama dengan kepalan tangan salam perjuangan khas PDIP, simbol perlawanan wong cilik untuk hidup lebih bermartabat.
" Dengan suara bergetar menahan haru, Maryati menyampaikan terima kasihnya langsung di hadapan para koordinator" .
"Saya Maryati warga Pondok Bahar. Terima kasih banyak kepada Bapak Dewan Akrom atas bantuan bedah rumah. Rumah saya sekarang sudah selesai dan layak huni. Semoga Bapak Dewan sehat selalu, sukses selalu, dan rezekinya dilancarkan," ucap Maryati, yang disambut tepuk tangan warga.
BUKAN PENCITRAAN SESAAT, SUDAH SEJAK 2023
Apa yang dialami Maryati bukanlah kerja politik sesaat menjelang pemilu. Hal itu ditegaskan oleh Teguh Rianto, Ketua Tim Koordinator PIP Kecamatan Larangan yang juga hadir malam itu.
Dalam keterangan melalui pesan singkat WhatsApp kepada redaksi, Teguh meluruskan narasi. Menurutnya, sumbangsih Bang Akrom - sapaan akrab Alrizoma Akrom - sudah terasa jauh sebelum ia resmi dilantik sebagai Anggota DPRD Kota Tangerang.
"Beliau sebelum menjadi dewan di DPRD Kota Tangerang sudah membuktikan sumbangsihnya sebagai kader PDI Perjuangan, dengan memperjuangkan dan membantu anak-anak siswa baik mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA," jelas Teguh Rianto.
Teguh memaparkan data, Program Indonesia Pintar (PIP) yang dikawal Alrizoma Akrom, S.H., M.I.Kom telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2023 hingga saat ini. Cakupannya tidak hanya di satu kecamatan, tetapi di 3 kecamatan sekaligus: Kecamatan Ciledug, Kecamatan Karang Tengah, serta Kecamatan Larangan. Ribuan orang tua siswa disebut sangat terbantu karena anak-anak mereka bisa tetap bersekolah tanpa terbebani biaya.
"Program PIP Bang Akrom ini sudah berjalan dari 2023. Tidak hanya di Larangan, tapi Ciledug dan Karang Tengah juga. Banyak orang tua siswa SD, SMP, SMA yang terbantu. Sebelum jadi Dewan pun beliau sudah kerja untuk rakyat. Makanya bedah rumah Bu Maryati ini adalah bukti lanjutan kerja nyata beliau," pungkas Teguh.
Bagi Teguh, logika kerja Bang Akrom sangat jelas dan berkesinambungan. Jika PIP memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa tetap bersekolah, maka bedah rumah memastikan anak-anak tersebut memiliki tempat belajar yang layak, aman, dan nyaman di rumahnya sendiri.
MEMULIAKAN WONG CILIK, AJARAN BUNG KARNO
Saat dikonfirmasi terpisah, Alrizoma Akrom, S.H., M.I.Kom berucap singkat namun bermakna. Baginya, rumah layak adalah hak dasar setiap warga negara, bukan hadiah.
"Kita ingin rakyat kecil bisa tidur dengan nyaman di rumah yang layak. Ini adalah kewajiban kita sebagai kader PDI Perjuangan untuk hadir di tengah rakyat, memanusiakan manusia sesuai ajaran Bung Karno," ujar Akrom.
Kini, rumah Maryati di Pondok Bahar, Kecamatan Ciledug telah 100% selesai. Tidak ada lagi ember untuk menampung bocoran hujan. Yang ada kini adalah tawa anak-anak yang bisa belajar dengan tenang, dan seorang ibu yang bisa tidur nyenyak tanpa khawatir dinding roboh.
Dari sebuah gubuk tak layak, kini telah lahir sebuah rumah harapan. Dan harapan itu, tumbuh dari uluran tangan seorang kader yang memilih untuk tetap membumi.(DW)

Social Header