Breaking News

Buku "Prabowo dan Penyelesaian Konflik Papua" Karya Dr. A.G. Socratez Yoman Tuai Beragam Respons: Dari Refleksi Diri hingga Tuntutan Pelurusan Sejarah

JAYAPURA, Globalnetizen.id -  Sebuah buku berjudul Prabowo dan Penyelesaian Konflik Papua karya Dr. A.G. Socratez Yoman terus memicu diskusi luas di kalangan pembaca dari berbagai latar belakang. Sejak beredar, buku ini mendapat tanggapan kuat karena dinilai berani menyodorkan data, fakta lapangan, dan perspektif kemanusiaan terkait persoalan Papua.

Rangkaian testimoni dari pembaca, aktivis, akademisi, hingga masyarakat umum menunjukkan bahwa buku ini berfungsi lebih dari sekadar bacaan. Bagi banyak orang, buku ini menjadi "jembatan" untuk memahami Papua yang selama ini belum banyak diketahui.

Membuka Wawasan dan Menggugah Hati Nurani
Sejumlah pembaca mengaku tersentak setelah membaca buku ini.

"Baca buku ini macam kitong malu sebagai orang Indonesia... buku ini mengganggu pikiran dan hati saya" Suprapto Nurdiman
"Dengan membaca buku Prabowo ini pikiran saya terbuka dan saya banyak belajar sejarah yang benar tentang Papua" Sodik

"Saya sangat ditolong oleh buku ini untuk mengerti banyak hal mengenai Papua. Sesungguhnya saya kaget data-data yang ditulis" Sukri Faizal

Aktivis Buddha, Nyang Kumala, menyebut: "Kita yang tidak tahu soal Papua menjadi terjembatani menjadi tahu melalui buku ini". Sementara Nur Aini menegaskan: "Kalau Anda mencari suara yang benar dan berani soal Papua, maka Anda harus membaca buku ini".

Disorot karena Pendekatan Kemanusiaan, Bukan Kebencian

Berbeda dari kesan awal sebagian pembaca, banyak yang menilai buku ini tidak menebar kebencian.

"Penulis menulis apa yang dia lihat, apa yang dia alami dan apa yang dia lakukan. Hebat dan luar biasa ialah penulis tidak menabur kebencian tetapi menghargai nilai kasih dan kemanusiaan" Joel Imbir

"Tulisannya bernilai kemanusiaan sangat tinggi. Penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan sangat besar tercermin dalam buku ini" Sadrakh Ngamel

Yuyun Cintia menambahkan: "Buku ini lahir dari realitas tanah Papua... bukanlah musiman yang lahir karena proyek dan pesan sponsor".

Dilihat sebagai Bahan Refleksi Kebijakan

Beberapa pembaca menilai buku ini relevan untuk pembuat kebijakan dan publik luas.

"Buku ini layak dibaca oleh pembuat kebijakan, akademisi, dan publik luas karena membuka ruang refleksi dimana penyelesaian konflik Papua membutuhkan keberanian politik, empati, dan perubahan paradigma: dari pendekatan kekuasaan ke pendekatan kemanusiaan" Mardia

Ahmad Siraj menulis: "Buku ini menyodorkan fakta kepada kita bahwa hingga saat ini, tanah Papua ibarat masih ada kerikil dalam sepatu dan terjebak dalam kubangan konflik kekerasan".

Dampak pada Generasi Muda

Dampak buku juga terasa hingga ke generasi muda. Seorang pembaca bercerita: 
"Anak-anak kami yang SMA selama ini cuek dengan namanya membaca buku di rumah... tetapi saat ada buku ini, dia baca sampai selesai. Kemudian dia buat pertanyaan yang kami pusing... 'Ini kami tidak dapat di sekolah katanya'".

Junai Manuwarun dari kalangan generasi Papua menyatakan: "...buku yang bapak tulis ini memberi kita pemahaman agar kita sebagai generasi Papua ini bisa tahu sejarah Papua yang baik dan benar. Karena selama ini kita dibutakan oleh sejarah palsu".

*Catatan Kritis terhadap Narasi Resmi*

Buku ini juga memuat tantangan terhadap catatan sejarah resmi. 

"Penulis, Dr. A.G. Socratez Yoman, secara terbuka menantang catatan sejarah resmi yang dipegang oleh pemerintah Indonesia. Tulisan ini memfokuskan kritik pada legitimasi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 dan mengangkat kembali signifikansi deklarasi 1 Desember 1961" Muhammad Fadli

Ir. Yasmin menyebut buku ini sebagai "benturan narasi sejarah mengenai integrasi Papua ke dalam NKRI. Sikap Dr. A.G. Socratez Yoman mewakili suara 'kontra-narasi' yang menuntut pelurusan sejarah".

Pengamat lain, Irma Simanjuntak, menilai: "Tulisan ini tidak sekadar berfungsi sebagai promosi literatur, melainkan sebuah manifesto politik dan identitas... merupakan cerminan nyata dari kompleksitas luka sejarah, dinamika sosial, dan ketegangan politik yang hingga kini masih terus hidup".

Tentang Penulis dan Buku

Dr. A.G. Socratez Yoman dikenal sebagai tokoh yang vokal menyuarakan isu Papua dari perspektif kemanusiaan. Dalam buku ini ia memotret kondisi di lapangan berdasarkan pengamatan dan pengalaman langsung. 

Seperti diungkap Amirudin: "Buku ini adalah senjata yang mematikan tanpa menghilangkan nyawa... hal yang paling berbahaya dan pertempuran yang paling sengit tanpa mesiu adalah buku".

Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk memahami akar persoalan dan mendorong dialog yang lebih empatik.(DW)



Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan buku, dapat menghubungi:  
Kontak: 08124888458
© Copyright 2022 - Global Netizen