Prof. Connie Rahakundini: Reaksi Barat Terbagi, Indonesia Harus Jaga Bebas-Aktif
JAKARTA, Globalnetizen.id -
Pengamat militer dan hubungan internasional Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie menilai kedekatan baru Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden China Xi Jinping akan memicu respons berlapis dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Respons itu, kata dia, terbagi dalam 3 lapisan besar: strategis, ekonomi, dan psikologis-geopolitik.
“Reaksi United States dan European Union terhadap kedekatan baru Vladimir Putin dan Xi Jinping kemungkinan akan terbagi dalam tiga lapisan besar: strategis, ekonomi, dan psikologis-geopolitik,” ujar Connie dalam video Point of View yang diunggah di akun media sosial resminya, Minggu 8/6/2026.
Lapisan 1: Strategis - Pergeseran Peta Aliansi Militer
Connie menyebut lapisan pertama fokus pada pergeseran perimbangan kekuatan militer dan aliansi pertahanan global. Poros Putin-Xi dinilai mengubah kalkulasi NATO dan sekutunya di Indo-Pasifik. Bagi Indonesia, ini ujian konsistensi politik luar negeri bebas-aktif.
Lapisan 2: Ekonomi - Blok Dagang & Rantai Pasok Baru
Lapisan kedua, kata Connie, adalah antisipasi lahirnya blok perdagangan baru, kebijakan sanksi balasan, serta pembentukan rantai pasok alternatif yang memutus ketergantungan ke Barat. “Negara-negara Global South termasuk Indonesia akan dipaksa memilih jalur ekonomi,” ujarnya.
Lapisan 3: Psikologis-Geopolitik - Perang Persepsi & Diplomasi Belakang Layar
Lapisan ketiga paling halus tapi paling tajam: tekanan retoris, perang persepsi di media, dan dinamika diplomasi back-channel di belakang layar antara kubu yang berseberangan. Connie menyebut ini “perang narasi” untuk merebut legitimasi global.
Sebagai akademisi, Connie kerap mengingatkan pentingnya Indonesia menjaga prinsip bebas-aktif di tengah tarik-menarik poros besar.
Fokusnya: pertahanan nasional, keamanan maritim, dan kedaulatan kebijakan luar negeri.(DW)

Social Header