Breaking News

Di Jok Motor Ada Kursi Bayi, Di Rumah Ada 4 Anak: Kisah Fadilah, Ojol Single Parent di Bekasi

"Setiap hari ia mengantar order sambil menggendong anak. Pernah pingsan saat bekerja, keempat anaknya bertahan dengan telur rebus" 


BEKASI, Globalnetizen.id -
Di jok belakang motor Honda Beat putih, Fadilah memasang kursi bayi rakitan dari besi dan anyaman bambu. Kursi itu saksi bisu: setiap hari perempuan 36 tahun ini mengantar pesanan ojek online sambil menggendong anaknya yang masih balita.

Fadilah adalah single parent dari empat anak. Sejak diceraikan suami pada 2017, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai driver ojol dari pagi hingga larut malam. Foto-foto yang beredar memperlihatkan ia meminum air dari botol di sela orderan, dengan anak kecil berdiri di samping motornya. Di rumah, ia duduk di lantai bersama keempat anaknya, mengenakan jaket ojol kebanggaan sekaligus beban.

“Kalau nggak ada yang jaga, saya ajak saja. Jok motor saya kasih kursi bayi biar aman. Orderan sepi ya tetap jalan, yang penting anak bisa makan dan sekolah,” ujar Fadilah saat ditemui awak media, Rabu (24/6/2026).

Pingsan di Jalan, Anak Bertahan dengan Telur Rebus 
Tahun lalu Fadilah pingsan saat bekerja dan dirawat di IGD dua hari. Saat itu keempat anaknya terkunci di rumah tanpa orang dewasa. Mereka bertahan dengan makan telur rebus yang dibagi empat dan minum air dari kamar mandi. 

“Anak saya pernah ke sekolah nggak pakai seragam karena belum bayar. Tapi anak bungsu saya bilang mau jadi dokter. Saya nangis, berdoa minta sehat biar bisa terus kerja untuk mereka,” katanya sambil mengusap air mata, seperti tampak di foto lingkaran yang ia tunjukkan kepada awak media.

Kursi Bayi Raitan, Simbol Perjuangan 
Kursi bayi dari bambu di motornya bukan sekadar modifikasi. Itu simbol pilihan sulit seorang ibu: antara berhenti kerja atau membawa anak ke jalanan. Sejak 2017 ia tidak menerima nafkah dari mantan suami dan tidak punya pekerjaan tetap lain.

Kisah Fadilah merefleksikan nasib 13,2% rumah tangga di Indonesia yang dikepalai perempuan, menurut BPS 2024. Mayoritas bekerja di sektor informal dengan pendapatan tak menentu.

Kini harapannya sederhana: sehat dan anak-anaknya lulus sekolah. “Saya nggak muluk-muluk. Asal mereka bisa sekolah sampai lulus, hidupnya lebih baik dari saya,” ujarnya.(DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen