JAKARTA,Globalnetizen.id -
Selama lebih dari dua dekade saya melayani sebagai Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua, saya belajar satu hal: Papua tidak bisa dipahami dari Jakarta, apalagi dari menara gading. Papua harus dibaca dari kampung, dari gereja kecil di pegunungan, dari ruang tahanan, dari duka ibu-ibu yang kehilangan anaknya.
Itu sebabnya buku ini saya tulis. Bukan untuk menyalahkan, bukan untuk memprovokasi. Tetapi untuk memberi cermin. Cermin agar kita, sebagai bangsa Indonesia, berani melihat wajah kita sendiri. Apakah tindakan sejarah kita sudah benar? Apakah tindak tanduk aparat negara sudah membuat orang Papua merasa menjadi bagian dari rumah besar bernama Indonesia?
Saya sering ditanya: kenapa seorang rohaniwan ikut bersuara soal politik, soal negara? Jawaban saya sederhana. Isa Almasih yang saya teladani tidak pernah diam di depan penguasa zalim. Ia bersuara di depan Herodes, di depan Pilatus. Ia berpihak pada yang tertindas. Jika iman hanya berhenti di mimbar, maka iman itu mati. Iman yang hidup adalah iman yang turun ke jalan, yang berani berkata benar walau pahit.
Banyak kawan saya, termasuk dari luar Papua, kaget setelah membaca buku ini. Seorang aktifis Budha dari Jakarta bilang, “Saya jadi tahu”. Seorang mahasiswa dari Salatiga bilang, “Buku ini jadi jembatan diskusi”. Itu yang saya harapkan. Papua selama ini seperti ruang sunyi. Orang Papua ragu bicara, orang luar ragu mendengar. Buku ini saya letakkan di tengah, sebagai meja bundar tempat kita berani jujur.
Saya tahu, solusi yang saya tawarkan tidak langsung dijawab, tidak langsung diikuti oleh penguasa hari ini, termasuk Pak Prabowo. Tidak apa-apa. Kebenaran tidak butuh aplaus cepat. Kebenaran butuh waktu. Saya percaya, jika anak muda Indonesia hari ini berani membaca realitas Papua dengan hati, bukan dengan prasangka.
Ada yang menuduh buku ini “mengganggu”. Ya, saya sengaja menulis yang mengganggu. Iman yang tidak mengganggu status quo bukanlah iman kenabian. Jika membaca buku ini membuat kita malu sebagai orang Indonesia, itu tanda hati nurani kita masih hidup. Rasa malu itu awal dari pertobatan bangsa.
Saya tidak menulis dari awan-awan. Saya menulis dari Jayapura, dari Wamena, dari Timika, dari penjara, dari duka duka yang tidak pernah masuk berita utama. Saya menulis sebagai Bapa Gembala, tapi juga sebagai Guru Generasi Bangsa. Tugas guru adalah jujur, walau muridnya tidak suka.
Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika Papua masih menjadi luka yang disembunyikan. Luka harus dibuka, dibersihkan, baru bisa sembuh. Menutup luka dengan spanduk pembangunan tanpa mendengar jeritan, sama saja menutup nanah dengan perban.
Karena itu saya mengajak: bacalah buku ini. Tidak untuk setuju dengan saya, tapi untuk berani berdialog. Anak muda Indonesia harus jadi generasi yang berani mendengar, bukan hanya berani berdebat. Berani duduk semeja dengan kawan Papua, bukan hanya berkoar di media sosial.
Saya percaya, solusi terbaik untuk Papua lahir dari realitas dan iman. Realitas yang kita akui bersama. Iman yang membuat kita percaya bangsa ini bisa lebih baik, jika kita berani jujur hari in
PENUTUP:
Buku ini bukan milik saya. Buku ini milik kita semua yang mencintai Perdamaian Yang Menjunjung Tinggi Nilai Nilai Kemanusiaan serta Keadilan. Jika setelah membaca Anda merasa terusik, berarti buku ini sudah menjalankan tugasnya. Karena tugas penulis bukan membuat nyaman, tapi membuat sadar. Dan saya, sebagai gembala, hanya ingin domba-domba saya, anak-anak Papua dan Indonesia, selamat, bermartabat, dan hidup dalam keadilan.(DW)

Social Header