JAKARTA, Globalnetizen.id – Sampul oranye itu bergambar siluet Papua dan sosok Prabowo Subianto mengangkat tangan. Judulnya: _Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua_, Edisi Revisi. Penulisnya: Dr. Socratez Yoman. Subjudul: _Kumpulan esai-esai sejarah, politik, hak asasi manusia_.
Buku ini kembali memicu percakapan. Bukan hanya karena menyeret nama Presiden, tapi karena puluhan halaman di dalamnya memuat testimoni pembaca dari berbagai latar. Isinya beragam: keterkejutan, rasa malu, hingga tuntutan dialog.
Menampar Wajah Kita Semua
Arifin Mahendra menulis, “Buku ini menampar wajah kita semua orang Indonesia.” Senada, Dharma Kusmaji mengaku, “Buku ini membuka borok negara... kita sebagai warga negara Indonesia non Papua menjadi malu.”
Bagi Maldova Ikhsan Abdulah, dampaknya personal. “Buku ini kalau dibaca semua orang maka secara otomatis gugur semua apa yang kita terima sejak kecil tentang Papua,” tulisnya. Ia menambahkan, “Sekaligus memperlihatkan wajah monster oknum Pejabat Sipil dan Militer di Papua.”
Kerangka Pikir Runtuh
Akbar M. menyebut pengalamannya membaca buku itu sebagai titik balik. “Wawasan saya terbuka dan seluruh kerangka pikir saya runtuh seketika. Selama ini otak menerima asupan racun yang saya pikir madu.”
Natsir Ruslani lebih eksplisit: “Akal sehat kita mengatakan apa yang beliau tulis ini benar... satu jalan adalah biarkan mereka lepas.” Faiz Abdala menulis, “Solusi terbaik adalah Rekonsiliasi dan kembalikan kedaulatan Papua seperti 1 Des 1961.”
Seperti Pisau Bedah
Agus Firmansyah menganalogikan buku itu dengan instrumen medis. “Seperti pisau bedah di tangan dokter, membedah pasien, terasa sakit tetapi itu membawa kesembuhan. Demikian buku ini, seluruh untaian kata dan kalimat menyakitkan sebab menyajikan berbagai peristiwa yang menyakitkan tetapi itu demi kesembuhan Papua dan Indonesia.”
Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B. Ponto ikut memberi catatan. “Buku ini bikin silau dan telanjang. Karena dari bab pembukaan sudah silau dan telanjang sampai kesimpulan.”
Bukan Sekadar Keamanan
Mahmud menulis, buku itu mengingatkan “konflik Papua bukan persoalan separatisme semata, melainkan konflik struktural yang berakar pada sejarah integrasi, ketidakadilan ekonomi, pelanggaran HAM, diskriminasi rasial, dan kegagalan pembangunan yang berkeadilan.”
Damar menilai, “Prabowo dihadapkan pada pilihan: melanjutkan paradigma lama yang menekankan pendekatan keamanan, atau melakukan terobosan dengan mengedepankan dialog, rekonsiliasi, dan keadilan substantif bagi orang asli Papua.”
Seruan Disebarluaskan
Nurdin Adullah menyarankan, “Buku ini dibagi luas untuk kita orang Indonesia agar tahu soal Papua sebenarnya dan terlebih kepada kaum muda.” Selvina Ambuni, yang menyebut diri sebagai orang Papua, menulis: “Kita punya luka ini sudah terlalu dalam dan sakit. Buku ini kalau bisa bagi-bagi biar semua baca. Kita punya anak-anak usia sekolah ini otak sudah lama dicuci dengan sejarah palsu.”
Menulis adalah Senjata
Basri Luhulima melihat buku sebagai bentuk perlawanan. “Orang Papua tidak harus berjuang dengan senjata dan demonstran... Tulisan adalah senjata yang sangat mematikan tanpa menghilangkan nyawa manusia.”
Hingga Jumat (21/2/2026), buku edisi revisi tersebut beredar di kalangan terbatas. Di bagian akhir buku tercantum kontak: 08124888458. Belum ada tanggapan resmi dari Istana, Kementerian Pertahanan, maupun Kantor Staf Presiden terkait isi buku dan testimoni pembaca.
Catatan Redaksi
belum dapat memverifikasi seluruh klaim historis dalam buku dan testimoni pembaca secara independen. Pemberitaan ini menyajikan isi buku dan respons pembaca sebagai bagian dari dinamika wacana publik terkait penyelesaian konflik Papua.(DW)

Social Header