Breaking News

1 Juni 1945 Bung Karno Letakkan Dasar, Ken Setiawan Implementasikan Cinta

Ken Setiawan Dari mesin rekrutmen NII yang sebut Pancasila "togut", kini ia tafsirkan Sila 1 sebagai ikrar cinta Tuhan, NKRI, dan keberagaman

JAKARTA, Globalnetizen.id - 
1 Juni 1945 Bung Karno memperkenalkan Pancasila di BPUPKI. 81 tahun kemudian, dari kontrakan sederhana Wehalim, Bandar Lampung, Ken Setiawan menulis ulang cara mengimplementasikannya. 

Dua kutub waktu, satu benang merah: Indonesia dibangun di atas cinta, bukan kebencian.

Ken dulunya mesin rekrutmen terbaik Negara Islam Indonesia. Ia menganggap Pancasila "togut" atau berhala. Kini ia jadi pengkampanye Sila 1 yang paling vokal. Lewat NII Crisis Center dan buku "Tuhan Kita Sama", ia membuktikan Pancasila bisa jadi vaksin deradikalisasi.

Dari "Togut" ke Ikrar Cinta 
Perubahan Ken bukan perubahan kosmetik. Ia sadar pernah memakai agama untuk membangun kebencian. Tafsir kitab yang sempit melahirkan sikap eksklusif, menolak perbedaan.

"Agama dulu membuat saya jadi pemarah, tapi kini agama mengantarkan pada semangat hidup untuk bangkit dan bermanfaat untuk sesama," ujarnya.

Dari penyesalan itu lahir rumusan implementasi Pancasila versi Ken.

1 Juni 1945: Sila 1 Adalah Jiwa, Bukan Urutan  
Waktu pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menaruh Ketuhanan di urutan terakhir. Tapi ia menegaskan semua sila lahir dari "jiwa ketuhanan". 

Ken menangkap jiwa itu. "Sila pertama adalah ikrar setia cinta kita kepada Tuhan dan ikrar setia kita kepada tanah air tumpah darah Indonesia," tegasnya.

Konsekuensinya logis: mencintai Tuhan berarti mencintai ciptaan-Nya. Termasuk tanah air dan seluruh anak bangsa yang berbeda. Perbedaan bukan ancaman, tapi takdir ilahi "li-ta'arafu".

Bonus Berantai: Dari Sila 1 ke Keadilan Sosial
Bung Karno merumuskan "Ekasila: Gotong Royong" dengan memeras 5 sila jadi 1. Ken merumuskan "Bonus Berantai" dengan mengurai 1 sila jadi 5.

"Jika sila pertama dipahami dan diimplementasikan, maka dapat bonus sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab," jelas Ken.

Efek domino itu berlanjut: lahir persatuan, tercipta musyawarah, muaranya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila 5 jadi bonus tertinggi.

Rukun Islam sebagai Strategi Gotong Royong  
Cara Ken membaca Rukun Islam mirip cara Bung Karno memeras Pancasila. Bukan ritual individual, tapi strategi kolektif.

Syahadat: deklarasi loyalitas ke kepemimpinan pro-rakyat. Sholat berjamaah: kampanye massal hapus kasta. Zakat: distribusi kekayaan. Puasa: latihan solidaritas kelas. Haji: kongres akbar lintas bangsa.

"Oleh sebab itu, dalam rukun Islam jelas menyimpan strategi mutakhir bagaimana Islam bangkit menyatukan umatnya," katanya.

Musuh Bersama Bukan Perbedaan  
Dengan kerangka itu, Ken mengajak umat beragama menghentikan debat klaim kebenaran. "Musuh para nabi bukan perbedaan agama, tapi penguasa zolim yang menindas," tegasnya.

Dari kontrakan Wehalim, Ken membuktikan satu hal: Tuhan yang ia cari lewat jalan radikalisme, justru ia temukan dalam kedamaian dan keberagaman Indonesia yang digagas Bung Karno 1 Juni 1945.

"Saatnya kita bersatu, agar hidup sejahtera, rukun, aman, damai meski beda agama," pungkasnya.

Narahubung
Ken Setiawan - NII Crisis Center
© Copyright 2022 - Global Netizen