Breaking News

Eduard Orocoma: Mimif Mudoi Ergens Muga ergens Miss ergens Noi Moskona, Artinya "Kami Satu Hati Satu Bahasa, Satu Tujuan dan semua Jadi Satu Untuk Moskona" - Mubes I Suku Moskona Momentum Kembalikan Adat Sebagai Panglima di Teluk Bintuni

Dengan tema Mimif Mudoi Ergens Muga ergens Miss ergens Noi Moskona, Artinya "Kami Satu Hati Satu Bahasa, Satu Tujuan dan semua Jadi Satu Untuk Moskona" - Mubes diharapkan lahirkan pemimpin adat legitimit dan selamatkan dusun sagu dari ancaman investasi.

BINTUNI, Globalnetizen.id -
Tanah Moskona mencatat sejarah baru. Suku Moskona, salah satu suku tertua yang mendiami kawasan hutan dan pesisir Teluk Bintuni, untuk pertama kalinya menggelar Musyawarah Besar (Mubes) Suku Moskona ke I Tahun 2026.

Mubes yang digelar pada 9–11 Oktober 2026 di jantung Distrik Moskona ini bukan sekadar pertemuan adat. Ia adalah forum tertinggi orang Moskona untuk duduk bersama, bicara jujur tentang tanah, hutan, sagu, dan masa depan anak-cucu Moskona di atas tanah leluhur mereka sendiri.

Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Pokja Adat Teluk Bintuni, Eduard Orocoma, S.T., menyambut Mubes ini dengan penuh hormat.

"Selamat dan sukses Mubes Suku Moskona ke I. Mimif Mudoi Ergens Muga ergens Miss ergens Noi Moskona- Kami Satu Hati Satu Bahasa, Satu Tujuan dan semua Jadi Satu Untuk Moskona. Ini rumah besar kita. Tempat kita kembali bicara tentang jati diri kita sebagai orang Moskona," kata Eduard Orocoma kepada Globalnetizen.id, Kamis (9/10/2026).

Bagi Eduard, tema yang diusung bukan slogan kosong. Ia adalah jeritan kultural Suku Moskona yang selama ini hidup dalam bayang-bayang proyek raksasa gas Tangguh LNG. Hutan adat menyempit, dusun sagu yang menjadi mama-mama punya tempat hidup terancam, sementara suara adat kerap tidak didengar dalam meja-meja keputusan pembangunan.

"Moskona punya hutan, punya dusun sagu, punya sungai yang jadi nadi hidup. Tapi hari ini, kita lihat sendiri, orang Moskona hampir jadi penonton di atas tanahnya sendiri. Lewat Mubes ini, kita mau kembalikan adat sebagai panglima," tegas Eduard.

Dusun Sagu dan Hak Ulayat Jadi Agenda Utama

Mubes I Suku Moskona menghadirkan semua unsur: tetua adat yang menjaga cerita leluhur, mama-mama adat yang menjaga dusun sagu, pemuda adat yang gelisah melihat hutan hilang, kepala-kepala marga, hingga Dewan Adat.

Empat agenda besar dibahas:

1. Kelembagaan Adat yang Legitimit: Suku Moskona butuh Dewan Adat yang lahir dari rahim adat sendiri, bukan ditunjuk dari luar. Pemimpin adat harus legitimit, diakui marga, bukan pemimpin adat bentukan.

2. Selamatkan Hak Ulayat dan Dusun Sagu: Pemetaan partisipatif wilayah ulayat Suku Moskona. Hutan adat dan dusun sagu harus dipetakan, diakui, dan dilindungi lewat Perda Masyarakat Adat. Jangan sampai tanah adat lepas hanya karena tidak ada peta.

3. Pendidikan dan Kesehatan yang Papua Punya Hati: Sekolah harus ajar bahasa Moskona. Puskesmas harus hormati obat-obatan tradisional dan cara hidup orang Moskona.

4. Ekonomi Berbasis Sagu dan Mama-Mama: Ekonomi bukan hanya soal perusahaan gas. Ekonomi Moskona adalah sagu, hasil hutan bukan kayu, kebun mama-mama, dan koperasi adat. Uang harus berputar di kampung, bukan hanya di kota.

Teluk Bintuni Kaya Gas, Tapi Orang Moskona Harus Sejahtera

Kabupaten Teluk Bintuni menyumbang gas terbesar untuk Indonesia lewat Tangguh LNG. Namun, menurut Eduard, kekayaan alam itu harus kembali ke pemilik hak sulung: Suku Moskona.

"Kami tidak anti investasi. Tapi investasi harus hormat adat. Adat harus duduk di depan, bukan di belakang. Jangan ambil keputusan tentang tanah Moskona tanpa orang Moskona," ujar Eduard.

Ia menegaskan komitmennya sebagai Anggota MRPB untuk mengawal hasil Mubes.

"Saya di MRPB Pokja Adat Teluk Bintuni akan kawal. Hasil Mubes ini tidak boleh berhenti jadi kertas. Harus jadi rekomendasi resmi, harus jadi Perda, harus jadi kebijakan afirmatif. Semangat kami di MRPB jelas: _Jaga Manusia dan Tanah Papua_. Manusia Moskona dan tanah Moskona harus dijaga," katanya.

Eduard berharap Mubes I Suku Moskona menjadi titik balik: Moskona bangkit, bersatu, dan berdiri sejajar dengan suku-suku besar lain di Tanah Papua, tanpa kehilangan hutan, sagu, dan bahasa ibunya.(DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen