Selasa (29/9/2026) – Warga Kilo Lima (Kilometer 5), Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan proyek pembangunan jalan di wilayah mereka. Mereka menilai proyek tersebut berjalan tanpa melibatkan masyarakat setempat, termasuk warga penerima manfaat Otonomi Khusus (Otsus) yang tinggal di sekitar lokasi.
Mami Suruan, warga Kilo Lima, menyatakan bahwa proyek jalan ini seharusnya melibatkan masyarakat lokal. "Jangan main ambil begitu saja. Ini bukan tanah kosong, ada warga yang tinggal di sekitar," ujarnya saat ditemui di lokasi. Ia meminta anggota dewan yang memiliki pokir (pokok-pokok pikiran) di kawasan Kilo Lima untuk turun langsung dan membahas pekerjaan tersebut bersama warga terlebih dahulu.
Menurut Mami Suruan, warga di sekitar lokasi merupakan masyarakat Otsus yang jumlahnya cukup banyak dan ingin memperoleh kesempatan kerja dalam proyek tersebut. Namun, setiap kali berhadapan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU), mereka terhalang oleh pokir anggota dewan. "Kami juga ingin berdiri sendiri. Karena itu masyarakat tidak terima," tegasnya. Hingga kini, ia menyebut tidak ada keterlibatan masyarakat sama sekali dalam pekerjaan tersebut. Warga berharap masyarakat diberdayakan agar pembangunan berjalan lebih baik.
Selain persoalan keterlibatan, Mami Suruan menilai sejumlah pekerjaan pembangunan di Kilo Lima belum berjalan maksimal. Beberapa item pekerjaan disebut belum dikerjakan, sementara di area galian juga terdapat persoalan material tailing. Ia meminta Bupati dan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Emanuel Kemong, datang melihat langsung kondisi di lapangan. "Saya sebagai warga merasa kecewa. Bapak Bupati pernah mengatakan pembangunan akan berjalan baik, tapi ujung-ujungnya kami menerima hal seperti ini," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Edward Suruan, warga Kilo Lima. Edward menegaskan dukungannya terhadap pembangunan jalan karena dinilai bermanfaat bagi warga dan keluarga di sekitar Kilo Lima. Namun, ia mempertanyakan mengapa pihak dari luar justru dipercaya mengerjakan proyek di dekat rumahnya, sementara dirinya tidak dilibatkan.
"Kenapa saya tidak dilibatkan, tapi orang lain yang datang bekerja di pinggir rumah saya? Saya tidak terima. Harus ada komunikasi," ujar Edward Suruan.
Meskipun proyek berasal dari pokir anggota dewan, Edward Suruan menilai masyarakat lokal tetap harus diberdayakan. Sebagai orang Papua, ia menegaskan hak dan tanggung jawab atas pembangunan di wilayahnya. Ia mengaku hingga kini belum mendapat informasi jelas dari Pemerintah Kabupaten Mimika terkait proyek-proyek yang berjalan di kawasan tersebut.
"Jangan memandang orang Papua sebelah mata. Ketika sudah maju menjadi anggota dewan dan bupati, mereka harus memperhatikan hal ini, khususnya bagi Papua dan tujuh suku, supaya menjadi tuan di negerinya sendiri," pungkasnya.
Warga Kilo Lima berharap Bupati dan Wakil Bupati Mimika segera meninjau situasi di lapangan dan memastikan pembangunan jalan berjalan sesuai rencana dengan melibatkan masyarakat setempat. Warga juga menegaskan bahwa pembangunan tetap harus berjalan demi kebaikan masyarakat dan akses transportasi yang lebih baik.(DW)
Narasumber:
• Mami Suruan – warga Kilo Lima
• Edward Suruan – warga Kilo Lima

Social Header