Dwi Santoso Salah satu Pembaca "Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua, berikan testimoni "Kesejahteraan Bukan Akar Konflik" 4 Akar Masalah Utama Sejak 1963. Buku Dinilai "Meluruskan Sejarah yang Bengkok"
JAKARTA, Globalnetizen.id - Sebuah buku terbaru yang membahas persoalan Papua karya Dr. Socratez Yoman kini menjadi perbincangan publik. Buku yang memadukan riset lapangan dan pengalaman penulis ini disebut banyak pembaca sebagai upaya "meluruskan sejarah yang bengkok" dan membuka ruang dialog yang lebih jernih tentang Papua.
"Kesejahteraan Bukan Akar Konflik"
Pendeta dan aktivis HAM *Dr. Socratez Yoman* menegaskan bahwa masalah kesejahteraan bukanlah akar utama konflik berkepanjangan di Tanah Papua. Menurutnya, narasi tersebut justru menutupi persoalan mendasar yang belum diselesaikan sejak integrasi Papua ke Indonesia pada 1963.
Dalam tulisannya pada "BAB 9 Kesejahteraan Bukan Akar Konflik" bagian dari buku yang ia susun, Dr. Yoman mengacu pada temuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam buku _Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present, and Securing the Future_ (2010).
LIPI mencatat ada empat akar konflik antara Papua dan Indonesia:
1. *Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia*
2. *Kekerasan negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum diselesaikan*
3. *Diskriminasi dan marjinalisasi Orang Asli Papua di tanah sendiri*
4. *Kegagalan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua*
*"Masalah kesejahteraan, yang selama ini didengung-dengungkan dan dianggap sebagai akar konflik yang terjadi di Tanah Papua, sesungguhnya tidaklah benar,"* tulis Dr. Yoman. *"Bahkan menyamarkan akar-akar konflik yang telah disebutkan di atas dengan dukungan riset mendalam dan kuat."*
Ia menyoroti pendekatan pembangunan infrastruktur pasca Pepera 1969 yang menurutnya tidak mampu menyelesaikan konflik di Papua Barat.
Dr. Yoman juga menyinggung soal kebenaran sejarah. Ia mengutip pernyataan Menteri Dalam Negeri RI saat itu, Jenderal TNI Amir Machmud, di hadapan Dewan Musyawarah Pepera (DMP) pada 1969. Dalam catatan _United Nations Official Records: 1812th Plenary Meeting of the UN Assembly, 19 November 1969_, Pemerintah Indonesia menyatakan berkeinginan dan mampu melindungi kesejahteraan rakyat Irian Barat sebagai alasan untuk tetap bersama Republik Indonesia.
*"Janji ini sangat bertolak belakang. Pada kenyataan dan praktiknya, Pemerintah Indonesia tak mampu melindungi warga dan masyarakat Papua,"* tegas Dr. Yoman. Ia menyebut adanya pengejaran, penangkapan, penculikan, dan penyiksaan yang dialami rakyat Papua hingga saat ini.
Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki *"telinga, mata, dan hati nurani"* untuk mendengarkan dan melihat penderitaan yang berlangsung di Papua.
*Respon Pembaca: "Obat Untuk Luka Papua"*
Buku ini menuai testimoni dari berbagai kalangan — akademisi, guru, mantan aparat, tokoh masyarakat, hingga warga non-Papua.
*Dari Tokoh Masyarakat & Akar Rumput:*
*Dwi Santoso - Ketua RT 03, Kelurahan Bantarjati, Bogor Utara, Jawa Barat*
> "Saya baru selesai membaca Bab 12 dari buku _'Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua'_ karya Gembala Socrates Yoman. Judulnya 'Kekerasan Militer: Wajah Buruk Negara di Papua'. Jujur, saya merenung cukup lama setelah menutup buku ini.
>
> Sebagai warga biasa dan Ketua RT di Bogor Utara, selama ini saya hanya mendengar sekilas tentang Papua dari berita TV. Tapi di bab ini, Pak Socrates Yoman mengajak kita melihat langsung kutipan pernyataan Mendagri Dr. Tito Karnavian pada Juli 2020: _'kalau kurang pasukan di organik yang ada di daerah (Papua), kurang ya kita tambah'_. Kalimat itu membuat saya bertanya, apakah pendekatan negara kita selama ini memang hanya soal menambah pasukan?
>
> Yang paling mengusik saya adalah pengingat penulis tentang peristiwa Paniai 8 Desember 2014, di mana 4 siswa meninggal karena penembakan aparat... Dari situ saya jadi sadar, konflik ini bukan masalah 'kemarin sore'. Ini luka sejarah yang panjang.
>
> Buku ini tidak mengajak kita membenci. Tapi mengajak kita jujur melihat: negara hadir seperti apa di tanah Papua selama ini?... Setelah membaca bab ini, saya merasa tugas kita sebagai bangsa juga begitu: menjaga, mendengar, dan mencari jalan damai, bukan hanya menambah kekuatan.
>
> Saya merekomendasikan bab ini untuk dibaca oleh para pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, dan anak-anak muda. Supaya kita tidak hanya tahu 'ada konflik di Papua', tapi juga mau memahami akar dan wajahnya."_ — _Dwi Santoso, Bogor Utara, 25 Agustus 2026_
Agustinus Soeroso menyebut buku ini membuka segala hal yang selama ini disimpan.
> "Buku ini membuka segala rahasia yang disimpan sehingga kita semua tahu...." — _Agustinus Soeroso_
Minggus Karatem menyoroti posisi buku ini berseberangan dengan narasi resmi:
> "Kalau buku-buku sejarah yang ditulis pemerintah adalah buku yang membelokan sejarah, menutup kebenaran maka bukunya Pak Yoman adalah buku yang meluruskan sejarah yang bengkok dan membuka kebenaran sejarah Papua." — _Minggus Karatem_
Buce Hardiansah menyebut buku ini sebagai "obat" bagi luka sejarah Papua:
> "Borok dan luka Papua oleh karena korban sejarah, maka buku ini adalah 'obat' yang mengobati borok dan luka itu." — _Buce Hardiansah_
*Dari Sudut Pandang Pelaku dan Pengajar:*
Seorang pembaca berinisial YB yang mengaku mantan aparat menuliskan pengakuannya:
> "Saya mantan aparat, saya sudah baca buku ini. Isinya benar... Membaca buku ini, rasa berdosa aku. Dan aku hakul yakin mereka pasti akan lepas pada waktunya." — _YB_
Dari dunia pendidikan, seorang guru berinisial PX menilai:
> "Sebagai seorang guru, saya telah membaca buku ini dengan teliti... 20% teori dan 80% adalah data riil lapangan." — _PX_
*Menggugah Pemahaman Non-Papua:*
Beberapa pembaca non-Papua mengaku persepsinya berubah setelah membaca.
> "Waouw, buku ini luar biasa. Selama ini kita pikir... Ternyata, tidak gratis perhatian negara... masalah mendasar dari Papua bukan kesejahteraan, bukan pembangunan tetapi Merdeka." — _Dwi Dikarya_
> "Buku ini pencerahan yang luar biasa. Saya harus mengakui bahwa kami NON PAPUA kadang membaca, mendengar informasi yang salah. Ternyata bukan segelintir orang Papua asli yang mau merdeka tetapi hampir 99%." — _Rici Ahmad_
Juniawati, warga non-Papua yang tinggal di Papua, menambahkan:
> "Kami sebagai orang Non Papua yang hidup di sini... bahwa apa yang ditulis itu benar dan itu perlahan-lahan mengubah pola pikir kita non Papua." — _Juniawati_
*Dinilai "Strategis dan Bermartabat":*
> "Awalnya saya kira ini buku 'sampah' ternyata selesai baca isinya luar biasa... Luar biasanya tidak ada isu agama yang dipakai dalam usaha merdeka itu." — _Umar S._
> "Buku ini sebuah Terobosan yang sangat strategis, aman, dan bermartabat... dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan hati dan pikiran, bukan memperlebar perbedaan." — _AT_
Seorang pembaca berinisial Blacius K bahkan menilai:
> "Isi buku ini terlalu berat: faktanya dan datanya sangat terang, akurat, dan masuk akal." — _Blacius K_
*Tentang Buku dan Penulis*
Buku ini diklaim penulisnya hasil riset bertahun-tahun ditambah pengalaman langsung di lapangan. Dengan gaya bahasa yang "praktis dan mudah dimengerti semua kalangan", buku ini digambarkan Agustinus Soeroso sebagai _"gunung api yang lama menyimpan panas dan ketika meledak tidak ada siapapun yang membendungnya."_
Tentang Dr. Socratez Yoman
Dr. Socratez Yoman adalah tokoh gereja, penulis, dan pegiat HAM asal Papua yang banyak menulis tentang sejarah dan penyelesaian konflik di Tanah Papua.(DW)

Social Header