Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Lampung berencana akan menggelar kegiatan road show ngaji kebangsaan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme dengan tema merajut kebangsan melalui Islam Rahmatan Lil Alamin ke pesantren dan madrasah se Provinsi Lampung
PGNI menggandeng Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center yang juga seorang mantan aktifis radikalisme yang kini telah insyaf yaitu Ken Setiawan.
Ketua umum Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Ust Mas Amiruddin mengatakan rencana kegiatan road show kebangsaan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme adalah salah satu bagian progam PGNI Lampung dalam rangka memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menciptakan situasi yang aman dan damai di wilayah Lampung.
Saat ini kegiatan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme dinilai sangat minim, apalagi imbas efisiensi sehingga kegiatan oleh pemerintah nyaris tiada.
Kami berharap Ken Setiawan yang saat ini juga menjabat sebagai kepala bidang pemuda dan pendidkan forum koordinasi perncegahan terorisme (FKPT) Provinsi Lampung agar dapat memberikan pencerahan supaya tercipta suasana yang aman dan kondusif di wilayah Lampung. Ujar Amirudin.
Kami sengaja menghadirkan Ken Setiawan karena dia adalah sosok yang pernah terlibat aktif dalam kelompok radikal, tapi kini telah insyaf dan kembali ke NKRI selanjutnya aktif dalam gerakan anti radikalisme bersama pemerintah.
Ken Setiawan diharapkan dapat menceritakan secara gamblang pengalaman dulu ketika bergabung di dalam kelompok radikalisme, tentang doktrin, cara rekrut dan alasan keluar dari jaringan radikalisme sehingga kini menjadi moderat.
Menurut Amiruddin, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pernah mengeluarkan pernyataan ada 198 pesantren di Indonesia terafiliasi dengan jaringan radikalisme dan terorisme, bahkan ada informasi satu pesantren di Lampung yang di dalamnya ada yang terpapar paham radikal terorisme sejumlah 90 orang.
Bahkan beberapa hari yang lalu, aparat mengamankan seorang pria berinisial H di Bandar lampung diduga terlibat dalam penyebaran materi yang mengandung narasi propaganda, rekrutmen, serta penghasutan terkait radikalisme dan terorisme melalui media sosial.
Beberapa pihak menganggap adanya issu radikalisme dan terorisme ini bisa menyebabkan masyarakat takut dengan pesantren, hingga takut dengan islam. Tapi menurut kami justru melihat ini sebagai bentuk alarm peringatan, bahwa bisa jadi, jaringan radikalisme dan terorisme mulai mengubah pola perekrutan mereka diantaranya pesantrean dan madrasah sebagai sasaran perekrutan. Ujar Amiruddin.
Kegiatan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme ini adalah upaya strategis untuk mendeteksi dini serta menangkal penyebaran ideologi radikalsme sebelum berkembang menjadi aksi terorisme.
Ketika di dalam lingkungan pesantren dan madrasah, para santri dianggap masih aman karena masih berada di dalam naungan figur Kyai atau Pengasuh pondok pesantren yang bertindak sebagai benteng ideologis.
Namun ketika mereka lulus mondok atau jika di luar pesantren para santri akan menghadapi tantangan lanskap informasi yang jauh lebih terbuka dan tidak tersaring, maka dari itu kegiatan pencegahan ini dinilai sangat efektif sebagai pembekalan untuk lingkungan pesantren dan madrasah agar mereka dapat membentengi diri dan lingkungan dari ancaman radikalisme dan terorisme.
Terakhir, dalam rangka mengapresiasi guru ngaji yang merupakan pilar penting dalam dunia pendidikan, PGNI juga sedang memperjuangkan insentif untuk para guru ngaji yang kesejahtraan mereka dinilai saat ini masih kurang.
PGNI juga mulai membagikan kacamata baca secara gratis secara bertahap kepada guru ngaji terutama kepada mereka yang mengalami hambatan penglihatan agar dapat menjalani aktivitas sehari hari dengan lebih nyaman dan produktif.
Kepada para guru ngaji di Lampung kiranya agar dapat bergabung ke PGNI melalui portal digital www.pgni.net secara gratis sebagai sarana untuk memberikan berita terbaru, mendata, mendistribusikan insentif dan kacamata baca gratis kepada guru ngaji. Tutup Amiruddin.(DW)

Social Header