Menyambut Hari Pahlawan Nasional 10 November 2026, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali (Denpasar, Badung, Tabanan), I Ketut Kariyasa Adnyana, mengajak masyarakat memaknai kepahlawanan tidak hanya sebagai seremoni, tetapi sebagai laku pengabdian yang berakar dari sejarah lokal.
Menurutnya, semangat 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari jejak-jejak keberanian yang telah lama hidup di Bali, pada 20 September 1906.
Di tanah Badung, sejarah pernah ditulis dengan keberanian.
Puputan Badung adalah jejak tentang kehormatan, keberanian, dan kecintaan yang begitu dalam terhadap tanah kelahiran hal ini diungkap saat awak media meminta pandangan serta harapanya dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November 2026 pada Minggu (1/11/2026).
Lebih dari seabad telah berlalu. Namun sejarah tidak pernah benar-benar pergi.
Mengenang Puputan Badung adalah untuk merawat ingatan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu melangkah ke masa depan, tetapi juga bangsa yang tidak melupakan dari mana ia berasal.
"Apa yang terjadi di Badung pada 1906 dan apa yang terjadi di Surabaya pada 1945 adalah benang merah yang sama: rakyat yang memilih kehormatan daripada tunduk pada penjajahan. Itu adalah pilihan moral," ujar Kariyasa Adnyana.
Ia menegaskan, nilai itulah yang relevan dengan tugas-tugas kebangsaan hari ini, khususnya di Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Sosial, Kementerian Agama, BNPB, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Semangat kepahlawanan, lanjut dia, harus diterjemahkan dalam tiga kerja nyata:
1. Memperkuat Solidaritas Sosial: Meneladani pengorbanan pendahulu dengan peduli pada kelompok rentan, lansia, disabilitas, dan korban bencana.
2. Merawat Kerukunan Umat Beragama: Nilai persatuan dari Puputan hingga pertempuran 10 November harus menjadi fondasi menjaga Bali sebagai rumah bersama yang toleran.
3. Menanamkan Ingatan Sejarah di Keluarga dan Pendidikan: Orang tua dan guru perlu menjadi penjaga ingatan agar generasi muda tahu dari mana mereka berasal.
"Penghormatan terbaik bukan hanya dengan menundukkan kepala dalam upacara, melainkan dengan melanjutkan perjuangan mereka lewat pengabdian nyata di lingkungan kita masing-masing," tegasnya.(DW)
Untuk para pendahulu yang telah mewariskan keberanian. Untuk generasi hari ini yang meneruskan pengabdian. Dan untuk generasi mendatang, agar selalu tahu bahwa setiap zaman memiliki perjuangannya sendiri.
Rahajeng Rahina Puputan Badung. Semoga semangat keberanian dan pengabdian Para Pahlawan terus hidup dalam diri kita.

Social Header