Breaking News

BAMBU RUNCING ITU BELUM TUMPUL Dari Pidato Bung Tomo di Surabaya ke Sawah-Sawah Kebumen: Toyib Khaerudin Menafsir Ulang Arti Kepahlawanan Ketika Bansos Salah Sasaran dan Anak Petani Terancam Putus Sekolah

Pada November 1945, Surabaya terbakar. Suara serak Bung Tomo pecah di corong radio: “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah…”

"Delapan puluh satu tahun kemudian, di sebuah kantor bercat merah di Kebumen, kalimat itu diucapkan ulang. Bukan oleh sejarawan. Melainkan oleh seorang bendahara partai: Toyib Khaerudin"



Kebumen, Globalnetizen.id - Jika Hari Pahlawan hanya soal upacara, tabur bunga, dan mengheningkan cipta selama 60 detik di Taman Makam Pahlawan, maka kita telah mengkhianati Surabaya.

Demikian kata Toyib Khaerudin, Bendahara DPC PDI Perjuangan Kebumen, Minggu, 2 November 2026. Baginya, 10 November bukan tanggal mati di kalender. Ia adalah api yang belum padam.

"Setiap 10 November kita mengheningkan cipta di TMP. Tapi sebagai kader banteng Kebumen, kita tidak cukup hanya mengenang. Kita harus melanjutkan perjuangan itu di sawah, di tambak, di pesisir Ayah sampai Buluspesantren," kata Toyib.

Di tangannya, sejarah tidak berhenti di museum.
Toyib menarik benang merah yang dilupakan banyak orang: hubungan antara pekik Bung Tomo dan banteng. Ia mengutip arsip pidato 9 November 1945 yang jarang dibuka:

"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga."

Banyak yang mengira Bung Tomo hanya bicara soal keberanian. Toyib membaca lebih dalam.

"Banteng-banteng itu adalah kita hari ini di Kebumen. Darah merah adalah ideologi keberpihakan pada wong cilik. Kain putih itu adalah kesucian cita-cita Bung Karno tentang Berdikari," ujarnya.

Dari Surabaya, ia melompat ke Bagelen. Ke Benteng Van der Wijck di Gombong, tempat serdadu kolonial pernah mengunci perlawanan rakyat. Ke barisan petani pengikut Pangeran Diponegoro yang menolak tunduk di perbukitan Karangsambung.

"Semuanya berakar pada semangat yang sama: lebih baik mati bermartabat daripada hidup dijajah. Itu jiwa Satyam Eva Jayate kebenaran pasti menang," kata dia.

Ketika Bambu Runcing Berubah Wujud

Jika 1945 medan juang adalah gang-gang Kapasan dan viaduk Wonokromo, maka 2026 medan juang Kebumen adalah data penerima bantuan yang amburadul.

Toyib blak-blakan: bambu runcing hari ini bukan lagi bambu.

"Kalau dulu bambu runcing, hari ini bambu runcing kita adalah kebijakan yang berpihak. Memastikan PKH dan BPNT tepat sasaran di Desa Argopeni sampai Surorejan, memastikan anak petani di Sempor tidak putus sekolah, memastikan program bedah rumah tidak salah alamat," tegasnya.

Di Kebumen, kemiskinan masih bersarang di pesisir selatan - dari Mirit hingga Ayah. Anak petani garam, anak nelayan, menjadi kelompok paling rentan putus sekolah. Di titik inilah, menurut Toyib, api Surabaya diuji.

Ia kemudian merumuskan apa yang ia sebut Tiga Perintah Juang Kader Banteng Kebumen sebuah tafsir lokal atas Trisakti Bung Karno:

1. Berdaulat di bidang Politik: Bukan soal menang pemilu, tapi soal menjaga toleransi di Kebumen yang majemuk, dari Petanahan yang pesisir hingga Alian yang di pegunungan.

2. Berdikari di bidang Ekonomi: Membela petani padi, petani garam pesisir selatan, dan UMKM agar tidak mati karena impor dan tengkulak.

3. Berkepribadian dalam Kebudayaan: Menanamkan kembali ingatan sejarah perjuangan lokal Kebumen di ranting, PAC, dan di sekolah-sekolah — agar anak Kebumen tahu bahwa leluhurnya bukan jongos.

Ia mengingatkan satu hal yang dilupakan dalam buku teks sejarah: dalam pertempuran Surabaya, yang berperang bukan hanya pemuda bersenjata. Ada Laskar Putri, ada Ibu-Ibu Dapur Umum yang memasak di bawah desing peluru.

"Kemerdekaan ditopang semua elemen, bukan hanya yang angkat senjata. Sama seperti di Kebumen, kekuatan kita adalah ibu-ibu, petani, nelayan, guru ngaji, yang setiap hari menjaga lumbung pangan," ujarnya.

Menjelang 10 November 2026, DPC PDI Perjuangan Kebumen tidak akan menggelar seremonial di ruangan ber-AC. Mereka akan turun: bakti sosial di panti asuhan, bersih-bersih tempat ibadah di wilayah pesisir dan perbukitan, dan mengajar sejarah perjuangan bangsa dari ranting ke ranting.

"Api Surabaya belum padam," tutup Toyib. "Api itu sekarang menyala di dapur rakyat Kebumen, di obor kader-kader banteng yang terus bergerak.? (DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen