Ada pemandangan yang menggetarkan dalam aksi mahasiswa di Jakarta pada 28 Oktober 2026. Di tengah kerumunan, asap, barikade aparat, dan poster-poster protes, ratusan tangan muda terangkat dengan gestur yang sama: mengacungkan tiga jari telunjuk, tengah, dan manis.
Bukan kepalan tinju kaum kiri, bukan telapak terbuka simbol perdamaian. Tiga jari itu kini menjadi bahasa politik baru.
Gestur sederhana itu menyimpan jejak panjang. Secara populer, salam tiga jari dikenal dari novel dan film The Hunger Games, di mana Distrik 12 menggunakannya sebagai penghormatan, simpati, dan perpisahan, yang kemudian berkembang menjadi simbol solidaritas dan pembangkangan terhadap kekuasaan Capitol yang represif.
Dari layar fiksi, simbol itu menyeberang ke jalanan politik dunia nyata. Ia pernah digunakan gerakan pro-demokrasi di Thailand dan gerakan perlawanan terhadap kudeta militer di Myanmar. Pada 28 Oktober 2026, ia menemukan pengucapannya kembali di jalanan Indonesia.
Bukan Sekadar Imitasi Budaya Pop
Namun dalam konteks Aksi Indonesia Sadar, salam tiga jari memiliki muatan yang lebih konkret dan lokal: Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan.
Tiga frasa itu adalah diagnosis politik ringkas atas pengalaman masyarakat.
- Sadar Dipalak menggambarkan pengalaman ketidakadilan, pemerasan, dan relasi ekonomi yang timpang.
- Sadar Dibakar merujuk pada kehancuran ekologis, kebakaran hutan dan lahan yang merampas ruang hidup dan kesehatan.
- Sadar Dimiskinkan menunjuk pada proses struktural yang membuat biaya hidup rakyat terus naik, sementara kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang.
Simbol itu tidak sekadar menolak satu-dua kebijakan, tetapi mengkritik struktur ekonomi-politik yang mengatur siapa yang mendapat untung dan siapa yang menanggung rugi.
Ironi Sumpah Pemuda
Ada ironi yang kuat ketika aksi itu berlangsung bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Jika pada 28 Oktober 1928, para pemuda mendeklarasikan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, maka pada 28 Oktober 2026, generasi muda kembali mempertanyakannya.
Apa arti satu tanah air jika tanahnya dibakar? Apa arti satu bangsa jika ketimpangan semakin lebar? Apa arti satu bahasa persatuan jika kritik diperlakukan sebagai ancaman terhadap stabilitas?
Dalam bacaan ini, tiga jari dapat dipahami sebagai "Sumpah Pemuda baru" dengan nada yang lebih getir pengingat bahwa persatuan tidak boleh menjadi mantra untuk membungkam perbedaan, dan nasionalisme tidak boleh menjadi selubung untuk melindungi kebijakan yang merugikan rakyat.
Kekuatan dan Batasan Simbol
Kekuatan utama salam tiga jari adalah keterbukaannya. Ia tidak mensyaratkan afiliasi organisasi atau ideologi tertentu. Mahasiswa, buruh, seniman, masyarakat adat, aktivis lingkungan, hingga warga biasa bisa mengangkat tanda yang sama. Di tengah masyarakat yang terfragmentasi, kemampuan menyatukan perbedaan itu adalah modal politik yang besar.
Namun keterbukaan itu juga menjadi tantangannya. Simbol bisa menyatukan kemarahan, tetapi belum tentu melahirkan analisis, strategi, dan agenda transformasi yang sama. Ada risiko simbol menjadi tren visual, komoditas media sosial, dan kehilangan daya kritisnya jika tidak diikuti kerja politik yang lebih dalam.
Tantangan gerakan ke depan, menurut tulisan ini, adalah bagaimana mengubah solidaritas simbolik menjadi solidaritas organisasional, mengubah kemarahan sesaat menjadi kesadaran politik yang bertahan, dan menghubungkannya dengan persoalan material: petani yang kehilangan tanah, buruh dengan upah tak layak, perempuan pekerja informal yang menanggung beban berlapis, hingga komunitas yang menghirup udara beracun akibat karhutla.
Pada akhirnya, tiga jari yang terangkat di Jakarta pada 28 Oktober 2026 bukanlah akhir, melainkan awal. Ia adalah pernyataan bahwa generasi muda tidak menerima ketidakadilan sebagai takdir.
Sadar dipalak. Sadar dibakar. Sadar dimiskinkan.
Dan ketika kesadaran itu menemukan keberanian untuk menjadi tindakan kolektif, ia selalu menjadi awal yang tidak disukai oleh kekuasaan yang ingin berkuasa tanpa dipertanyakan.(DW)
Penulis: HG
Kontak Redaksi: [Untuk Kepentingan Publikasi Opini]

Social Header