Breaking News

Millennium Public Pulse 28: Tom Lembong Prediksi Potensi Krisis 50%, Ahok Tekankan Administrasi Keadilan Sosial

JAKARTA, Globalnetizen.id -
Dalam rangka peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda, DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian menggelar forum dialog kebangsaan _Millennium Public Pulse 28_ di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Forum ini menghadirkan dua tokoh nasional: Ekonom Senior Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) dan Ketua DPP PDIP Bidang Perekonomian Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Hadir ratusan anak muda lintas kampus dan komunitas yang mayoritas mengenakan atribut merah bertuliskan 'Indonesia Timur'.

Tom Lembong: Potensi Krisis di Atas 50% dalam 6-12 Bulan
Ekonom senior Thomas Trikasih Lembong membuka sesi dengan prediksi ekonomi yang mengejutkan. Ia memprediksi Indonesia berpotensi menghadapi krisis ekonomi dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.

"Hitungan saya mungkin potensi kita krisis dalam 6-12 bulan ke depan itu di atas 50 persen," kata Tom di hadapan peserta.

Menurut Tom, jika krisis tersebut terjadi, dampak terberat akan dirasakan oleh generasi muda. Namun ia meminta generasi muda tidak takut dan goyah.

Ia beralasan, sejarah mencatat krisis justru kerap menjadi titik balik yang menyelamatkan generasi selanjutnya, seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dan di Indonesia pada 1998.

Prediksi krisis yang disampaikan Tom bukan yang pertama. Sejumlah pakar ekonomi sebelumnya juga telah mengingatkan pemerintah akan potensi pengulangan krisis 1998.

Ahok: Pejabat Harus Jadi Administrator Keadilan Sosial
Menanggapi tantangan generasi muda di tengah potensi krisis, Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menekankan pentingnya etika dialog dan kebijakan berbasis data.

"Menjawab semua pertanyaan mereka tetapi tentu harus dengan santun, kita belajar dialog. Jangan potong pembicaraan saya dong saudaraku," ujar Ahok yang disambut tawa peserta.

Ahok menyebut ada dua modal utama yang harus dimiliki anak muda hari ini: etika komunikasi dan kemampuan riset data.

Ia kemudian membagikan pengalaman blak-blakan saat menata kampung kumuh di Jakarta. Menurutnya, program pemindahan warga dari gang sempit ke rumah susun sempat menemui kegagalan karena mengabaikan aspek sosiologi warga.

"Ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang. Jualan telur, keluarin Supermi, kasih saset jualan. Kita pindahkan dia ke rumah susun, dia enggak bisa jualan, hilang," jelasnya.

Berkaca dari itu, konsep rumah susun kemudian diubah menjadi lebih ramah ekonomi, layaknya pusat perbelanjaan yang memungkinkan warga tetap berdagang, seperti yang diterapkan di kawasan Gandaria City.

Kesalahan kedua, kata Ahok, adalah sistem pengundian unit rusun yang memecah kohesi sosial.

"Orang kampung kalau enggak ada beras minjam sama tetangga, nitipin anak, enggak ada makanan bisa berbagi. Begitu pindah ke rumah susun, tiba-tiba satu blok dia sama orang yang asing, enggak kenal, jaim, enggak berani minjam," ungkapnya.

Meski mengedepankan dialog, Ahok menegaskan pemimpin juga harus tegas.

"Anda melakukan kebijakan apapun tentu ada kajiannya, tapi Anda perlu dialog, dengarkan. Tapi Anda juga mesti tegas, karena bajingan juga banyak, di oknum rakyat ini," tegasnya.

Ia menutup sesinya dengan konsep kepemimpinan yang ia sebut sebagai Administrasi Keadilan Sosial.

"Jadi kita harus jadi pejabat yang menjadi administrator untuk mewujudkan keadilan sosial. Jadi Anda mengadministrasi keadilan sosial itu," pungkas Ahok.

Forum Millennium Public Pulse 28 sendiri digelar rutin setiap tanggal 28 dan akan berlanjut hingga puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028. (DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen