Jakarta, Globalnetizen.id -
Papua hari ini bukan sekadar wilayah konflik. Ia telah menjadi medan pertarungan narasi, tempat berbagai kepentingan saling bertumpuk dengan mengatasnamakan rakyat.
Di permukaan, semua pihak berbicara atas nama rakyat Papua. Di lapangan, kehidupan nyata terus berdarah. Inilah ironi terbesar Papua: semua orang berbicara tentang Papua, tetapi hampir tidak ada yang benar-benar mendengarkan suara rakyat Papua sendiri.
I. KETIKA NARASI MENJADI MEDAN PERANG
Setiap pihak memiliki versinya sendiri. Satu pihak berbicara tentang keutuhan dan keamanan. Pihak lain berbicara tentang kemerdekaan dan keadilan. Pihak ketiga berbicara tentang pembangunan dan kesejahteraan.
Semuanya benar menurut panggung tempat mereka berdiri. Namun yang terlupakan: di bawah semua cerita itu, ada manusia yang setiap hari harus memilih antara bertahan hidup di tanahnya sendiri atau pergi agar tetap hidup.
Keributan yang berlebihan selalu menyembunyikan sesuatu. Ketika publik hanya sibuk berdebat siapa yang paling benar, kita lupa melihat siapa yang terus menderita sementara perdebatan itu berlangsung.
II. TIGA LAPISAN KEPENTINGAN
1. Kepentingan Negara: Ketika Keutuhan Menutup Keadilan
Bagi pusat kekuasaan, Papua sering dipahami sebagai soal kedaulatan dan stabilitas. Keamanan dijadikan syarat utama. Akibatnya, setiap ketimpangan mudah dibingkai sebagai gangguan ketertiban.
Padahal stabilitas yang dibangun di atas keheningan yang dipaksakan bukanlah perdamaian. Itu hanya jeda sebelum suara yang dibungkam meledak lebih keras. Mempertahankan wilayah tidak boleh berarti kehilangan rakyat yang tinggal di dalamnya.
2. Kepentingan Ekonomi: Kekayaan yang Tidak Dimiliki Pemiliknya
Di balik narasi keamanan dan pembangunan, tersembunyi realitas paling nyata: Papua menyimpan kekayaan alam luar biasa besar.
Inilah paradoks yang paling menyakitkan: tanah yang paling kaya justru dihuni rakyat yang paling miskin. Sumber daya dikelola, diekspor, dan dinikmati jauh dari tempatnya berada. Penduduk asli hanya menjadi penonton di atas tanah leluhurnya sendiri.
Selama kepentingan keuntungan lebih diutamakan daripada hak hidup penduduk setempat, pembangunan apa pun akan selalu terasa seperti penjarahan yang disamarkan.
3. Kepentingan Politik: Simbol yang Menelan Realitas
Papua kerap dijadikan simbol — simbol persatuan di satu sisi, simbol perlawanan di sisi lain. Di panggung nasional maupun internasional, nama Papua dipakai untuk memperkuat posisi.
Ketika Papua hanya dijadikan simbol, manusia asli Papua perlahan menghilang dari percakapan. Simbol menjadi lebih penting daripada nyawa yang seharusnya diwakilinya.
III. YANG TERLUPA: RAKYAT SEBAGAI SUBJEK
Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, ada satu pihak yang paling terdampak namun paling jarang didengar tanpa tekanan: rakyat asli Papua.
Mereka bukan pion politik. Mereka bukan penonton. Mereka adalah subjek — pemilik sah tanah, sejarah, dan masa depan di atasnya. Hak itu ada bukan karena pemberian negara atau investor, melainkan karena mereka telah ada sejak generasi-generasi sebelumnya.
Masalah terbesar Papua hari ini bukan kurangnya undang-undang, dana, atau proyek. Masalah terbesarnya adalah semua pihak mengaku berbicara untuk Papua, tetapi hampir tidak ada yang membiarkan rakyat Papua berbicara untuk dirinya sendiri.
IV. JALAN KELUAR
Solusi tidak akan datang dari ruang rapat ber-AC di ibu kota, dan tidak dari mereka yang hanya sesekali terbang melintas di atas tanah ini.
Solusi hanya mungkin muncul ketika kita berani mengubah urutan paling mendasar: menempatkan rakyat asli Papua di posisi pertama. Bukan sebagai objek kebijakan, bukan sebagai penerima bantuan, bukan sebagai masalah yang harus diselesaikan — melainkan sebagai pihak yang menentukan sendiri masa depannya dengan bebas, setara, dan bermartabat.
Ada dua pertanyaan sederhana yang harus diajukan setiap kali mendengar berita tentang Papua: Siapa yang diuntungkan jika konflik ini terus berlanjut? Dan siapa yang dirugikan jika kebenaran akhirnya diucapkan dengan jujur?
Jawaban atas pertanyaan itu akan membongkar lebih banyak realitas daripada semua laporan resmi yang pernah ditulis.(DW)
Penulis: Hendrik Ngu Tra

Social Header