Breaking News

Bukti PDI Perjuangan Hadir untuk Masyarakat Miskin, I Ketut Kariyasa Adnyana Berbagi Kasih di Panti Asuhan Hindu Pertama Tabanan

"Ketut Kariyasa: " Bukan tentang seberapa banyak yang kita beri, tapi tentang ketulusan untuk peduli'

TABANAN, Globalnetizen.id- Komitmen PDI Perjuangan sebagai partainya wong cilik kembali dibuktikan oleh salah satu kader terbaiknya dari Dapil Bali, I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P., Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Melalui kegiatan sosial bertajuk "SUNMORI & BERBAGI" yang diadakan bersama komunitas motor di Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala, Tabanan, Bali, Kariyasa menegaskan bahwa perjuangan PDI Perjuangan tidak pernah berhenti pada tataran wacana, melainkan hadir nyata di tengah rakyat miskin, anak-anak terlantar, dan mereka yang membutuhkan uluran tangan negara.

Untuk diketahui, Yayasan Gayatri Widya Mandala merupakan sebuah lembaga sosial atau panti asuhan Hindu pertama di Tabanan yang berdedikasi mengasuh anak-anak terlantar, kurang mampu, serta yatim piatu agar mendapatkan pendidikan layak. Panti ini adalah simbol perjuangan kemanusiaan untuk wong cilik di Bumi Tabanan.

Konsep Acara: Menggabungkan aktivitas Sunday Morning Ride (Sunmori) yang digemari komunitas motor dengan aksi kepedulian sosial (berbagi) sebagai wujud gotong royong.
Lokasi Kegiatan: Panti Asuhan Yayasan Gayatri Widya Mandala yang terletak di Kabupaten Tabanan, Bali.
Tujuan: Menumbuhkan semangat kepedulian sosial, gotong royong, dan memberikan dukungan moril maupun materil kepada anak-anak panti asuhan melalui kolaborasi positif bersama generasi muda, sejalan dengan ajaran Trisakti Bung Karno.

Kegiatan aksi sosial yang dilakukan oleh I Ketut Kariyasa Adnyana bersama komunitas anak muda ini membawa pesan ideologis yang kuat tentang nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi roh perjuangan PDI Perjuangan.

Sebagai kader PDI Perjuangan, Kariyasa menekankan bahwa kaum Marhaen, anak-anak yatim piatu, dan masyarakat miskin tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. PDI Perjuangan harus hadir mengulurkan tangan secara langsung. Ini adalah wujud nyata dari asas kemanusiaan bahwa setiap anak bangsa adalah bagian penting dari Indonesia.

Sesuai ajaran Bung Karno, Kariyasa mengajak generasi muda dan komunitas motor untuk mengubah hobi menjadi gerakan gotong royong. Inilah esensi dari Trisakti - Berkepribadian dalam Kebudayaan. Gotong royong adalah kepribadian bangsa Indonesia yang harus terus dihidupkan oleh kader-kader PDI Perjuangan.

Sebagai Kader dirinya Optimisme untuk Masa Depan Anak-Anak Bangsa, bersama PDI Perjuangan kami percaya bahwa anak-anak dari kalangan kurang mampu adalah calon pemimpin masa depan bangsa. Kariyasa memberikan motivasi kepada anak-anak di panti asuhan agar tetap semangat belajar, menjaga harapan, serta optimis dalam mengejar cita-cita mereka, karena negara harus hadir mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pernyataan khas yang menjadi pegangan perjuangannya dan sering digaungkan di Instagram resminya @kariyasa_dprri adalah: "Bukan tentang seberapa banyak yang kita beri, tapi tentang ketulusan untuk peduli" - sebuah kalimat yang merefleksikan ketulusan PDI Perjuangan dalam berjuang untuk kemanusiaan.

"Ini adalah instruksi partai. Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri selalu mengajarkan kita untuk turun ke bawah, berbaur dengan wong cilik, dan setia pada perjuangan rakyat miskin. Sunmori & Berbagi ini adalah cara kami, kader PDI Perjuangan, mengamalkan ajaran Bung Karno tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Kita harus pastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang merasa ditinggalkan," tegas Kariyasa yang dalam kegiatan tersebut tampak bersama komunitas dengan kaus hitam bertuliskan WKP.

Ia menegaskan, PDI Perjuangan akan terus konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat miskin, termasuk hak anak-anak terlantar untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan kasih sayang.

"Kehadiran kita di Panti Asuhan Gayatri Widya Mandala, panti asuhan Hindu pertama di Tabanan yang mengasuh anak-anak yatim piatu dan kurang mampu, adalah bukti bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar bagi kaum miskin dan tertindas. Kita tidak hanya datang dengan bantuan, tapi dengan cinta dan solidaritas," pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus mengawal perjuangan wong cilik di Tabanan dan Bali pada umumnya.(DW)
© Copyright 2022 - Global Netizen