Breaking News

Tulisan Beredar Kaitkan G30S dengan Pola Intervensi AS Versi “Economic Hit Man

JAKARTA, Globalnetizen.id- Sebuah tulisan yang beredar di ruang publik mengaitkan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dengan pola intervensi Amerika Serikat terhadap pemimpin negara yang dinilai menentang kepentingan AS. Tulisan berjudul _“Lembaran Hitam Penjajahan Baru Neokolonialisme”_ itu menyebut G30S sebagai bentuk “hukuman” terhadap presiden yang melawan neokolonialisme-imperialisme atau Nekolim.

Narasi tersebut merujuk pada buku _Confessions of an Economic Hit Man_ karya John Perkins. Buku itu mengungkap praktik intelijen ekonomi AS dalam memengaruhi dan menjatuhkan pemimpin negara berkembang.

Klaim Pola Penggulingan Presiden oleh CIA

Menurut tulisan tersebut, sebelum buku Perkins terbit, kematian Presiden Ekuador Jaime Roldós dan Presiden Panama Omar Torrijos Herrera dalam kecelakaan udara dianggap sebagai musibah biasa. Namun setelah buku itu muncul, publik mulai mengaitkannya dengan rekayasa CIA.

Jaime Roldós yang terpilih sebagai presiden Ekuador pada 1979 disebut membuat kebijakan minyak yang merugikan Texaco, perusahaan asal AS. Meski selalu bepergian dengan dua helikopter untuk mengecoh intelijen, helikopter yang ditumpanginya meledak di udara pada Mei 1981.

Dua bulan kemudian, pada 31 Juli 1981, Presiden Panama Omar Torrijos tewas dalam kecelakaan pesawat. Torrijos disebut pernah mengatakan kepada Perkins bahwa ia mengetahui kematian Roldós adalah “pekerjaan CIA” dan dirinya akan mengalami hal serupa. Tulisan itu juga menyebut Presiden Chile Salvador Allende yang terpilih secara demokratis sebagai korban “diterkam srigala”, istilah Perkins untuk CIA.

Daftar Pemimpin yang Disebut Jadi Target AS

Tulisan itu merangkai sejumlah pemimpin yang menurutnya digulingkan oleh AS. Di antaranya Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh melalui demonstrasi bayaran, Presiden Guatemala Jacobo Arbenz, Presiden Chile Salvador Allende melalui kudeta perwira lokal, hingga Presiden Irak Saddam Hussein melalui invasi militer.

Untuk Indonesia, narasi itu menyebut hukuman terhadap Presiden Soekarno dilakukan dengan “perpaduan cara” yang dipakai pada Mossadegh dan Arbenz, yakni demonstrasi dan kudeta. Soekarno disebut dihukum karena lantang menolak bantuan AS dengan seruan _“Go to Hell with Your Aid”_ dan menggalang kekuatan anti-Nekolim di dunia.

Tafsir atas Peran G30S dan Soeharto

Mengutip narasi tersebut, G30S atau “Gestok” versi Bung Karno disebut terjadi dengan campur tangan AS untuk memberi hukuman. Tulisan itu mempertanyakan siapa pelaksana eksekusi dan dalangnya.

Disebutkan bahwa setelah Jenderal A. Yani gugur, Soekarno mengambil alih Angkatan Darat dan menunjuk Jenderal Pranoto Rekso Samodro sebagai pelaksana harian. Namun Soeharto disebut menghalangi Pranoto menghadap Soekarno, lalu mengangkat diri sebagai pengganti A. Yani. Tindakan itu disebut sudah bisa dianggap sebagai kudeta terhadap Panglima Tertinggi.

Narasi berlanjut ke penerbitan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar. Sehari setelahnya, 12 Maret 1966, PKI dibubarkan. Menteri-menteri yang dituduh terlibat G30S ditangkap, sementara DPR-GR dan MPRS dibersihkan dari orang pro-Soekarno dan diganti dengan loyalis Soeharto.

Keterkaitan dengan Freeport dan Neokolonialisme

Tulisan itu juga mengaitkan naiknya Soeharto dengan terbukanya pintu bagi modal asing, terutama AS melalui PT Freeport. Masuknya perusahaan asing disebut sebagai bentuk masuknya neokolonialisme yang dibantu oleh pengkhianat revolusi dari bangsa sendiri.

Strategi AS disebut turut memainkan sentimen agama untuk melawan komunisme, sehingga menggagalkan Front Persatuan Nasional berporos Nasakom yang digagas Soekarno. Isu kebangkitan PKI disebut masih dipakai hingga kini untuk melawan lawan politik.

Ajakan Kebangkitan Nasional Kedua

Tulisan itu ditutup dengan ajakan kebangkitan nasional kedua. Jika kebangkitan 20 Mei 1908 bertujuan mengusir kolonialisme, kini masyarakat diminta bangkit mengusir neokolonialisme.

“Bedanya kolonialisme dan neokolonialisme: dulu bangsa asing berhidung mancung bermata biru, sekarang neokolonialisme bermodal besar bekerja sama dengan antek-anteknya merekayasa dengan berbagai cara. Persatuan nasional harus dibangun melawan neokolonialisme, guna mencapai dan membangun Indonesia Raya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!” tulisnya.

editor: D Wahyudi
© Copyright 2022 - Global Netizen