Di tengah meningkatnya polarisasi identitas di ruang digital, sosialisasi kebangsaan bertajuk "Moderasi Beragama & Ketahanan Sosial" digelar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Buleleng, Bali, Minggu, 27 September 2026.
Kegiatan dengan subtema "Menumbuhkan Sikap Moderat & Harmoni Sosial di Tengah Keberagaman" ini menghadirkan anggota DPR RI, *I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P.* sebagai narasumber utama. Acara berlangsung di salah satu ruang auditorium kampus Undiksha dan diikuti puluhan mahasiswa.
Berdasarkan pantauan di lokasi, materi sosialisasi ditampilkan melalui layar proyektor di depan kelas. Di dalam ruangan, tampak seorang mahasiswa berjas almamater khas Undiksha berwarna biru - jaket resmi mahasiswa Undiksha - berdiri menyampaikan pandangan menggunakan mikrofon, di hadapan barisan mahasiswa lain yang duduk menyimak.
Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa diberi ruang untuk bertanya dan menyampaikan pengalaman mereka tentang praktik toleransi di lingkungan kampus dan desa adat.
Moderasi Bukan Kompromi Agama, Tapi Cara Beragama
Dalam paparannya, I Ketut Kariyasa Adnyana menegaskan, moderasi beragama bukan berarti memoderatkan ajaran agama itu sendiri. Bukan mencampuradukkan keyakinan.
"Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama. Yakni dengan mengedepankan esensi ajaran agama untuk saling melindungi martabat kemanusiaan," ujar politisi yang dikenal dekat dengan kalangan akademisi Bali tersebut.
Menurut dia, Indonesia dengan 17 ribu pulau dan ratusan kelompok etnis, hanya bisa bertahan jika warganya memiliki daya tahan sosial yang kuat. Ketahanan sosial, kata dia, lahir dari sikap moderat: tidak ekstrem kiri, tidak ekstrem kanan, tidak memaksakan kehendak, dan menghormati perbedaan.
"Di Buleleng, kita punya tradisi Menyama Braya. Di Undiksha, mahasiswa dari berbagai latar belakang agama dan suku hidup bersama. Itu modal sosial yang harus dijaga. Jangan sampai ruang kampus yang seharusnya menjadi laboratorium harmoni, justru menjadi tempat bibit intoleransi tumbuh," katanya.
Mahasiswa Sebagai Penjaga Nalar Publik
Pemilihan Undiksha sebagai lokasi sosialisasi bukan tanpa alasan. Sebagai LPTK terbesar di Bali utara, Undiksha menjadi barometer kehidupan multikultural di Buleleng. Mahasiswa berasal dari Bali, Jawa, Lombok, NTT, hingga Sulawesi.
Kariyasa mendorong mahasiswa untuk menjadi agen penjaga nalar publik, terutama di media sosial. Menurutnya, tantangan moderasi hari ini bukan di jalanan, melainkan di algoritma media sosial yang kerap memperkuat echo chamber dan ujaran kebencian.
"Kalau ada konten yang mengadu domba, jangan di-share. Tabayun dulu. Sikap moderat di era digital adalah verifikasi sebelum viral," ujarnya.
Salah satu peserta, mahasiswa semester 5, mengapresiasi pendekatan dialogis dalam kegiatan tersebut. Ia menilai, materi moderasi beragama relevan dengan tugas mahasiswa sebagai calon pendidik yang nantinya akan berhadapan dengan kelas yang beragam.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari program MPR/DPR RI dalam menyerap aspirasi sekaligus memperkuat empat pilar kebangsaan di kalangan generasi muda. Panitia berharap, setelah kegiatan ini, mahasiswa Undiksha dapat menindaklanjuti dengan aksi nyata di tingkat desa dan komunitas.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen bersama menjaga harmoni sosial di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng.(DW)

Social Header