Breaking News

Gebrakan Pemdes Munduk Buleleng, PAD Pariwisata Lampaui Target dan Buka Peluang Kerja Warga

Kepala Desa Munduk, I Nengah Sudira, S.H., didampingi Sekdes, Putu Sukardana, mengatakan kontribusi tersebut menjadi salah satu sumber penting bagi desa di tengah keterbatasan dana desa yang diterima setiap tahun.

BULELENG, Global Netizen– Perkembangan sektor pariwisata di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, mulai menunjukkan dampak terhadap kemampuan keuangan desa. Hingga awal Oktober 2026, pendapatan asli desa (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata telah mencapai sekitar Rp169 juta.

Capaian tersebut bahkan telah melampaui target PAD yang sebelumnya ditetapkan Pemerintah Desa Munduk untuk tahun 2026, yakni sekitar Rp110 juta.

Kepala Desa Munduk, I Nengah Sudira, S.H., didampingi Sekdes, Putu Sukardana, mengatakan kontribusi tersebut menjadi salah satu sumber penting bagi desa di tengah keterbatasan dana desa yang diterima setiap tahun.

“Target awal kami Rp110 juta. Sekarang sudah mencapai sekitar Rp169 juta dan ini belum sampai akhir tahun,” ujar Sudira saat ditemui di Kantor Desa Munduk, Rabu (7/10/2026).

Menurut Sudira, pemasukan dari sektor pariwisata antara lain berkaitan dengan pengelolaan objek wisata Danau Tamblingan dan Air Terjun Melanting. Dalam mekanismenya, pengelolaan melibatkan BUMDes sebelum dilakukan pembagian sesuai ketentuan dan kesepakatan pihak-pihak yang terlibat.

Bagian yang menjadi hak desa dinas kemudian dicatat sebagai PAD dan dimasukkan ke dalam APBDes. Pemerintah desa selanjutnya mengalokasikan anggaran tersebut untuk berbagai kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat.

Sudira menyebut transparansi penggunaan PAD dapat dilihat melalui APBDes yang diumumkan pemerintah desa.

“Yang masuk ke desa dinas itu menjadi PAD desa dan kemudian dianggarkan melalui APBDes. Kami juga memasangnya dalam baliho APBDes,” jelasnya.

Pertumbuhan pariwisata di Munduk juga membawa masuk investasi dari luar desa. Namun, pemerintah desa berharap perkembangan tersebut tetap memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat setempat.

Sudira mengatakan warga Munduk sendiri telah mulai memanfaatkan peluang ekonomi dari sektor pariwisata. Sebagian anak muda bekerja di bidang pariwisata, baik di Munduk maupun di luar daerah.

Pemerintah desa juga mendorong masyarakat meningkatkan kemampuan, termasuk keterampilan bahasa asing. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui kegiatan yang melibatkan perguruan tinggi.

“Kalau masyarakat kami punya kemampuan, jangan sampai karena tidak bisa bahasa akhirnya tenaga dari luar yang dipakai. Kami ingin masyarakat Munduk juga bisa mengambil peluang dari pariwisata,” katanya.

Menurutnya, kehadiran investor seharusnya tidak membuat masyarakat lokal kehilangan kesempatan untuk menikmati manfaat ekonomi dari perkembangan pariwisata.

“Kami juga ada investor, kami sampaikan seperti itu, tolong masyarakat kami. Jangan sampai kami yang punya wilayah malah menjadi penonton,” ujarnya.

Di balik pertumbuhan pariwisata, Pemerintah Desa Munduk juga menghadapi tantangan menjaga karakter alam dan pertanian desa.

Munduk masih memiliki kawasan persawahan, perkebunan, hutan, serta sejumlah potensi wisata alam. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi pengembangan pariwisata sekaligus harus dijaga agar tidak berubah secara berlebihan.

Sudira mengaku salah satu persoalan yang dihadapi saat ini adalah regenerasi petani. Minat generasi muda untuk melanjutkan pekerjaan orang tua di sektor pertanian dinilai semakin berkurang.

“Kami sebenarnya ingin sawah tetap ada dan lestari. Tetapi kendalanya sekarang regenerasi. Anak-anak muda banyak yang tidak mau bekerja di sawah,” ungkapnya.

Pemerintah Desa Munduk, lanjut Sudira, belum membuat peraturan desa khusus mengenai perlindungan kawasan pertanian. Namun, desa tetap menyosialisasikan ketentuan pemerintah daerah terkait pembangunan dan alih fungsi lahan.

Ia berharap perkembangan pariwisata tidak membuat Munduk kehilangan identitas sebagai wilayah yang masih memiliki bentang alam hijau dan kehidupan pertanian.

“Harapan kami pariwisata tetap berkembang, tetapi hijaunya Munduk tetap dipertahankan. Jangan sampai karena pariwisata kemudian sawah dan alamnya hilang,” katanya.

Sudira menegaskan pemerintah desa tidak memandang pariwisata sebagai satu-satunya sumber kehidupan masyarakat. Menurutnya, pertanian dan perkebunan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan warga Munduk.

Karena itu, ia menyebut sektor pariwisata sebagai “bonus” yang dapat memperkuat kemampuan desa, terutama ketika sumber pendanaan lain mengalami keterbatasan.

“Pariwisata tetap kami perlukan, tetapi prinsip kami pariwisata itu sebagai bonus,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah desa juga menyadari perkembangan usaha wisata dapat memunculkan persoalan sosial apabila tidak diikuti komunikasi yang baik antara pelaku usaha dan masyarakat sekitar.

Karena itu, Sudira berharap pengelola usaha pariwisata memahami kondisi masyarakat lokal dan menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar.

Bagi Desa Munduk, tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan. Pemerintah desa ingin pertumbuhan sektor pariwisata berjalan bersama dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi warga, kesempatan kerja bagi generasi muda, serta perlindungan terhadap sawah dan lingkungan yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Penulis: Gede Sumertayasa, S.H.

© Copyright 2022 - Global Netizen